Showing posts with label Kliping. Show all posts
Showing posts with label Kliping. Show all posts

Tuesday, June 6, 2017

Cegah Kebakaran, Warga Baduy Luar Butuh Mitigasi Bencana

Yasir Sani (PM Kemitraan) ketika mengunjungi warga Baduy Luar yang bertahan sementara di bawah terpal dari plastik setelah dilanda musibah kebakaran minggu lalu. Photo Aji Panjalu.
*Kemitraan dan RMI Serahkan Bantuan

Banten-Untuk mencegah bencana kebakaran yang melanda perkampungan, warga Baduy membutuhkan program mitigasi guna mencegah bencana kebakaran berulang kembali.

Demikian diungkapkan oleh Communications Specialist Kemitraan, Alexander Mering, usai melakukan kunjungan dan menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban kebakaran di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (5/6) kemarin.

“Pengetahuan mitigasi ini dimaksud, bisa digali dari kearifan lokal masyarakat Baduy sendiri, terutama Baduy Dalam. Jadi tidak harus menggunakan alat-alat canggih dan modern,” tegas Mering. 

Dia sangat yakin, bahwa peletakan atau cara memasang hawu(Tungku dari Tanah Liat) dan Parako (Perapian) di dalam rumah orang Baduy Dalam sudah diperhitungkan dengan cermat. Karena dilihat dari struktur maupun secara teknis pemasangan, kelihatan kalau hal tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana kebakaran.
Dari pengalamannya bekerja bersama masyarakat adat lebih dari 10 tahun terakhir, Mering menemukan cukup banyak praktik-praktik dalam budaya masyarakat adat berupa tatakelola pengendalian bencana. Seperti pengendalian api, air, tanah, udara bahkan hama. Misalnya  kata dia yang pernah dijumpainya di masyarakat Dayak di Kalimantan, Kasepuhan di Lebak,  dan Topo Uma di dataran tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Untuk itu pada pelaksanaan fase III Program Peduli yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) di wilayah masyarakat Baduy dan Kasepuhan, di Lebak, dia berharap juga bisa menemukan kearifan lokal kedua masyarakat adat tersebut yang terkait dengan mitigasi bencana, salah satunya bencana kebakaran. Ditambahkannya, Program Peduli sendiri merupakan program pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

Sejak peristiwa kebakaran yang melanda 83 rumah milik 118 KK Baduy Luar,  di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabuapten Lebak, Banten Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) turut melakukan penggalangan dana dan menyalurkan sejumlah bantuan.  

Ketua RT setempat, Ahdi yang menerima langsung bantuan mengatakan hingga Senin (5/6) kemarin sudah cukup banyak bantuan yang mengalir ke Cisaban. Baik yang disalurkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, private sector dan individu yang bersimpati pada korban. 

Bantuan berupa barang, bahan bangunan, pakaian, makanan maupun uang.   Antara lain bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 miliar lebih. Terdiri dari uang Jaminan Hidup (Jadup) sebesar Rp 328.500.000 dan bantuan logistik senilai Rp 68 juta lebih.
Sementara itu staf RMI, Novytya Ariyanti yang turut mengantar bantuan bersama wartawan dan dua relawan lainnya mengatakan, bahwa kedatangan RMI, Kemitraan, dan PWKI, kali ini adalah untuk yang kedua, setelah minggu lalu menyalurkan bantuan berupa uang dan selimut kepada para korban. Saat ini kata Novytya Ariyanti, warga Cisaban tengah sibuk membangun rumah-rumah tradisional mereka dari kayu dan bambu. (*)

Monday, June 5, 2017

Aroma Kopi Inklusi dari Sulawesi


Aroma kopi Toratima dari Sigi, Sulawesi Tengah dan Kopi Kahayya, dari Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan telah membuat Isma Savitri, wartawati Tempo English, Jakarta kepincut.

Media bergengsi untuk pembaca kelas atas baik dalam dan luar negeri ini mewawancarai bang Rahmat Saleh (Karsa Institute) dan Bang Naufal Achmad dari Sulawesi Community Foundation (SCF), teman-teman serta warga setempat tentang produk kopi yang dihasilkan oleh petani dari sejumlah desa di jantung pulau Sulawesi yang menjadi site Program Peduli selama ini. 

Wawancara ini merupakan tindak lanjut dari diskusi (Kemitraan) dengan mbak Isma. Diskusi-dikusi reguler yang kami lakukan bersama-sama para wartawan dan pelaku media seperti ini, merupakan ruang yang strategis dalam menyampaikan berbagai praktik-praktik baik yang telah dicapai oleh Program Peduli di bawah Koordinator Kementerian Kemenko PMK.

Tempo English, mempublikasikan hasil liputannya, pada edisi Majalah Tempo English minggu ini. Silahkan anda membaca kisanya sambil menengak secangkir kopi. Bagi yang tidak majalahnya, silahkan beli di toko buku terdekat di kota anda, atau memesannya langsung ke Tempo English.
Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih kepada mbak Isma Savitri dan Tempo English, serta teman-teman dari SCF dan Karsa Institute serta semua warga Sigi dan Kahayya yang telah mengharumkan nama indonesia dengan secangkir kopinya yang luar biasa.

Monica Tanuhandaru Yasir Sani Widya Anggraini Novi Anggriani Harliani Lia Ahmad Syaifudin Naufal Achmad Takhta Pandu Padmanegara Kawan Yohanes @PeduliAdat Alexander Mering @kemitraan_pgr Karsa Palu Ade Siti Barokah Tuan Bustom Elias Tana Moning Anto Gagasn Budi Budiansyah Florensius Sius Kopika Kartiyus Agis relawan hijau
https://magz.tempo.co/…/…/05/30/OUT/33194/Coffee-Craze/41/1

Monday, October 31, 2016

Kemko PMK Jangkau 950.000 Warga Marginal

Ir Magdalena MM, menyampaikan sambutan workshop di Jambi. dok SSS Pundi
Jambi - Dari sekitar 4,5 juta jiwa rakyat Indonesia yang hidup dalam kondisi marginal dan terpinggirkan, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK) baru mampu menjangkau 950.000 jiwa pada pelaksanaan Program Peduli fase kedua di tahun 2015-2016.
Demikian diungkapkan Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kemko PMK, Magdalena, ketika menyampaikan sambutan workshop untuk Mendorong Sinergi Lintas Wilayah untuk Pemberdayaan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Sepanjang Lintas Tengah Sumatera, di Jambi, Kamis (27/9). Berita selengkapnya bisa dibaca beritasatu.com  dan versi englisnya di teraju.id.

Tuesday, June 14, 2016

Makan Bersama sebagai Bentuk Syukur

Sumber photo dan text: Radar Kaltim
Hermansyah, Tenggarong

DIKARAUINAI alam yang subur sebagai tempat bercocok tanam guna menghidupakan keluarga, merupakan anugrah yang tak ternilai bagi warga suku Dayak Kenyah di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kukar. Sebagai bentuk terima kasih, setiap tahun mereka menggelar syukuran pasca panen yang disebut “Uman Undrat” yang artinya makan bersama dengan rasa gembira dan penuh syukur. Baca selengpanya

Monday, June 13, 2016

Menikmati Kopi 'Pungut' Toratima

Sumber Photo dan text: Republika
REPUBLIKA.CO.ID, Yonatan Tari mengajak kami ke kebun ketika kami sudah berkumpul di rumahnya, Jumat (13/5) pagi. ‘’Habis dari kebun baru kita minum kopi toratima,’’ ujar Yonatan, petani kopi di Pelempea, Kecamatan Pipikoro, pedalaman Kabupaten Sigi, di pinggir Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah.

Mendengar informasi minum kopinya di rumah Yonatan, saya memberi usul. ‘’Kayaknya lebih asyik minum kopinya di kebun.’’ Teman-teman lain, sambil bercanda memprotes usulan saya. “’Bikin repot saja.’’ Untuk membaca selengkapnya klik di sini

Cara Organik Mengembalikan Kopi Pipikoro

Sumber Photo dan text: Media Indonesia
PEGUNUNGAN bagian selatan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bukanlah wilayah yang mudah dilalui. Jalanan tanah yang rata sudah sesuatu yang harus disyukuri karena banyak jalan lainnya ialah jalan setapak melintasi sungai, melintasi lereng bekas longsor, ataupun jalan dengan penuh batuan besar. Meski begitu, memang ada alasan kuat yang membuat desa-desa di pegunungan itu layak dikunjungi. Di Desa Pelempea di Kecamatan Pipikoro, magnet kuat itu adalah budi daya kopi yang beberapa tahun ini bangkit lagi. Media Indonesia berkesempatan melihatnya pada Sabtu (14/5) lewat kegiatan 'Journalist Trip' yang diprakarsai Yayasan Perspektif Baru, Sulawesi, dan Karsa Institute. - baca selengkapnya di sini...

Wednesday, June 8, 2016

Buang Jong- Tradisi Tolak Bala Suku Sawang (Inside Indonesia)


Dipublikasikan oleh CNN Indonesia tanggal 21 Mei 2016
Deburan ombak di musim pasang merupakan gejala alam yang disikapi dengan ritual adat yang dikenal dengan sebutan Buang Jong.

Bagi Suku Sawang, kelompok etnis yang sebagian besar menetap di wilayah Belitung, debur ombak yang menerjang di musim pasang adalah momen yang tak bisa diabaikan begitu saja. Gejala alam itu perlu disikapi dengan cara yang takzim. Cara yang tentu saja tak lepas dari tradisi nenek moyang. 

Orang-orang Sawang mengenal tradisi itu dengan sebutan Buang Jong. Makna Buang Jong adalah membuang perahu ke laut lepas. Suku Sawang melakukannya untuk menghindari sial dan petaka. Prosesi ini diharapkan bisa menolak berbagai penyakit dan bencana, terutama musibah di laut lepas, sebab sebagian dari mereka adalah nelayan.

Ikuti berita dengan kemasan internasional berbahasa Indonesia di www.cnnindonesia.com dan channel CNN Indonesia di Trans Vision.
  • Kategori

  • Lisensi

    • Lisensi YouTube Standar

Sunday, May 29, 2016

Uman Undrat: Idea Kebahagiaan dan Cara Mengada Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Potong Babi untuk persembahan sebagai wujud syukur atas keberhasilan panen. (foto oleh Kasmani)
Oleh Muhammad Salim

Rinai hujan masih turun perlahan-lahan, sebagian menitis di sela-sela dedaunan, ketika para undangan mulai tampak dari gerbang desa. Mereka disambut oleh seluruh warga yang bersiap dengan pakaian terbaik. Sapei Sapaq, pakaian adat lelaki, beserta Mandau, dan Ta a, pakaian adat perempuan, menjadi dress code warga yang sudah dewasa—kecuali kami, rombongan Desantara yang datang bersama kolega Kemitraan dari Samarinda. Tidak ada aturan adat yang  mengharuskan tamu, sekalipun sudah dianggap seperti keluarga, memakai pakaian adat. Baca berita selengkapnya

Wednesday, May 25, 2016

Tradisi Pesta Panen yang Masih Melekat di Lung Anai

Tonton video di sini
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan masih mengguyur ketika warga Desa Lung Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sedang bersiap menyelenggarakan uman undrat atau pesta panen. Semangat mereka melakukan ritual adat tahunan itu seolah tak luntur meski hujan sempat menumbangkan salah satu umbul-umbul dekorasi.

Setiap Mei, warga Lung Anai, yang merupakan Suku Dayak Kenyah, selalu menyelenggarakan pesta panen. Hal tersebut merupakan akhir dari ritual mereka dalam menjalankan tradisi bertani.


Sumber:  CNN Indonesia

Meriahnya Pesta Panen Masyarakat Dayak Kenyah di Desa Lung Anai

TENGGARONG - Para pemuda menggotong lesung kayu sepanjang 6 meter ke Lamin Adat Dayak Kenyah.

Seorang perempuan menuangkan beras ke dalam lesung. Lalu para perempuan menumbuk beras menggunakan alu.

Pukulan alu itu seirama dengan alunan musik tradisional yang mengiringi prosesi mecaq undrat atau tumbuk beras.

Kegiatan ini memeriahkan uman undrat atau pesta panen tahunan di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kukar.

Beberapa tamu undangan ikut pula menumbuk beras hingga jadi tepung halus.

Tepung beras ini diayak dengan alat tradisional dari bahan bambu dan rotan. Kemudian tepung beras yang dicampur gula dan parutan kelapa dimasukkan dalam lubang bambu sepanjang 40 cm.

Kedua ujung lubang bambu disumpal dengan daun nangka, lalu dibakar dengan dijejer di tungku. Pekerjaan ini diserahkan pada kaum pria.

Warga Lung Anai menyebut penganan ini boloq.

Sumber: Tribun Kaltim

Tuesday, May 24, 2016

Cara Lung Anai Menjaga Tradisi Panen


Udoq kiba, tarian untuk mengusir roh jahat sampai hama penyakit di Desa Lung Anai, Loa Kulu, 
Kalimantan Timur. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Kutai Kartanegara, CNN Indonesia -- Hujan masih mengguyur ketika warga Desa Lung Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sedang bersiap menyelenggarakan uman undrat atau pesta panen. Semangat mereka melakukan ritual adat tahunan itu seolah tak luntur meski hujan sempat menumbangkan salah satu umbul-umbul dekorasi. Setiap Mei, warga Lung Anai, yang merupakan Suku Dayak Kenyah, selalu menyelenggarakan pesta panen. Hal tersebut merupakan akhir dari ritual mereka dalam menjalankan tradisi bertani.

Kepala Adat Dayak Kenyah di Lung Anai Ismail Lahang mengatakan pesta panen tidak boleh dilewatkan, meskipun tahun ini ada beberapa warga yang mengalami gagal panen akibat musim kemarau panjang.

"Ini adalah rasa syukur kami. Karena mulai awal kami menggarap lahan dan ladang, penuh dengan kesusahan dan was was. Ada kekacauan, luka, dan segala macam sehingga kami mengucapkan rasa syukur dengan pesta panen," kata Ismail saat ditemui usai Pesta Panen.

Dari kejauhan denting suara sluding atau klentengan yang dimainkan pemusik sebelum acara benar-benar dimulai, seperti sebuah panggilan bagi warga untuk menuju lamin adat yang berada di jantung desa.

Warga yang akan tampil dalam pesta terlihat mengenakan baju adat khas Suku Dayak. Sementara yang hanya menghadiri pesta, mengenakan baju biasa.

Acara dimulai dengan penyambutan tamu oleh Kepala Adat dan para penari sebelum memasuki lamin. Penyambutan berlanjut dengan tampilan tari-tarian di dalam lamin.

Dentingan slending atau klentengan dan dentuman sampek mengiringi tarian pertama yang ditampilkan, yaitu datun julut. Tarian kebersamaan dengan gerakan gemulai dari penari perempuan itu menandakan kelemahlembutan warga dalam menerima setiap tamu yang datang.

Suguhan tari-tarian berlanjut dengan tari Ajai oleh segerombolan anak laki-laki. Berbeda dengan gerakan tari perempuan, tari ajai memperlihatkan keperkasaan laki-laki, terlihat dari gerakannya yang banyak menghentakan kaki sambil memasang kuda-kuda, juga atribut maskulin, seperti perisai dari kayu.

Acara dilanjutkan dengan berdoa. Staf adat memimpin doa dengan menggunakan Bahasa Dayak Kenyah. Bagi yang tidak mengerti bahasa setempat, doa tersebut terdengar seperti nyanyian yang sesekali diselingi dengan seruan.


Usai doa dipanjatkan, waktunya potong babi. Seperti di daerah lain, pemotongan babi melambangkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan.

Seluruh orang yang berada di lamin diminta keluar sejenak untuk melihat prosesi penyembelihan babi. Staf adat memegangi babi dan meletakkanya di antara bambu yang disilangkan. Sementara itu Kepala adat memotong sendiri kepala babi menggunakan pisaunya.

Daging babi itu nantinya akan dimasak dan disuguhkan untuk makan bersama keesokan harinya.

Rangkaian Mencaq Undrat

Di sisi lain lamin, segerombolan laki-laki, lebih dari 10 orang, sudah mengambil posisi mengapit lesung yang sangat panjang. Setelah prosesi penyembelihan babi, mencaq undrat siap dilangsungkan. Dalam Bahasa Indonesia mencaq undrat berarti beras ditumbuk.

Lesung dengan panjang sekitar 6 meter digotong bersama-sama ke dalam lamin. Selain karena lesung yang terbuat dari kayu pa itu sangat berat, gotong royong juga melambangkan kebersamaan yang terjalin antarwarga.

Ketika lesung sudah siap di tengah ruangan, perempuan pembawa beras mengisi lesung. Kemudian disusul oleh beberapa perempuan pembawa alu.

Mereka lantas menumbuk beras sampai halus. Tak berapa lama, ada juga laki-laki yang ikut menumbuk beras. Kegiatan menumbuk diiringi musik yang senada dengan suara alu beradu dengan lesung.

Beras yang sudah hancur lantas diayak. Beberapa ibu sudah siap dengan ayakan yang terbuat dari bambu dan rotan. Tujuannya untuk memisahkan bagian yang halus dan yang masih berbentuk pecahan bulir beras.

Beras yang sudah sehalus tepung itu sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam bambu sambil bambu diketuk-ketukkan ke lantai, kemudian diisi kembali. Hal itu dilakukan agar bambu terisi penuh oleh tepung. Jika sudah penuh, ujung bambu ditutup dengan daun nangka.

Bambu-bambu yang sudah terisi tepung beras yang disebut undrat ao itu dibakar sampai matang, sampai warna hijau bambu berubah menjadi lebih pucat. Waktu memasak tergantung tingkat nyala dan meratanya api. Biasanya butuh 2-3 jam agar undrat ao matang dan bisa dimakan.

Undrat ao yang sudah matang dibawa kembali ke dalam lamin untuk dimakan bersama semua orang yang datang ke pesta panen. Prosesi itu dinamakan uman undrat. Memakannya harus dengan hati yang gembira karena itu berarti syukur atas pekerjaan warga yang berhasil dan dapat dinikmati.

Uniknya, undrat ao tak hanya dinikmati orang yang masih hidup. Orang-orang yang sudah mati pada tahun itu dan tak sempat merasakan pesta panen pun diajak menikmati undrat ao, namun dengan cara yang berbeda.

Tetua keluarganya melakukan sebuah ritual khusus. Mereka mengerik semua benda peninggalan orang yang telah meninggal. Membungkusnya bersama dengan potongan kecil undrat ao, lalu dibawa ke makam.

Jika dalam satu siklus berladang tidak ada yang meninggal, prosesi tersebut tidak dilakukan.

Sambil tamu menikmati undratnya, tari-tarian kembali disuguhkan. Kali ini tarian agak berbeda, dinamakan udoq kitaq dan udoq kiba dengan tujuan mengusir segala penyakit, hama, dan juga roh jahat.

Segerombolan perempuan berkebaya menari sambil menggunakan topeng unik. Topeng pertama menyerupai wajah manusia berwarna putih, sedangkan topeng kedua berbentuk balok dan terbuat dari kayu.

Uniknya, topeng tersebut memiliki hiasan manik-manik dengan motif khas Dayak. Yang memakainya tak melihat apa-apa karena tak ada lubang untuk mengintip. Tujuannya agar mereka tidak melihat hantu atau roh jahat yang mereka usir.

Tak mau ketinggalan, Kepala Adat juga menunjukkan keahlian menarinya. Ia menari tarian perang khas laki-laki, lengkap dengan perisai, mandau, juga menggunakan baju kebesaran. Tarian itu disusul oleh tarian perempuan yang lebih gemulai dalam menggerakan tubuhnya. (sil)

Sumber: CNN Indonesia