Showing posts with label RMI. Show all posts
Showing posts with label RMI. Show all posts

Friday, September 15, 2017

Stand RMI Juara III di Acara PeSoNa

Stand dan Penghargaan PeSoNa
Jakarta- Konsep stand Hutan Adat membawa RMI memperoleh pengharagaan sebagai Stand Terbaik III pada acara PeSoNa yang berlangsung pada 6-8 September 2017. Demikian ditegaskan Koordinator Usaha RMI (Kedai Halimun), Siti Nursolihat, setelah acara penyerahan penghargaan, Jumat (08/9).

“Penghargaan ini merupakan hal yang paling membanggakan bagi RMI, karena melalui usaha keras tim, akhirnya bisa membawa pulang penghargaan,” kata Siti Nursolihat.
Dia juga mengatakan, stand yang berkonsepkan hutan adat mempunyai nilai tersendiri karena berusaha untuk menampilkan nuansa kehidupan masyarakat dan hutan. Baca selengkapnya

Thursday, September 7, 2017

Program Peduli-Kemitraan Tampilkan Produk Komunitas di Acara PeSoNa

Ny. Misnah di Stand Kemitraan-Program Peduli. Photo by Mering

Jakarta- Program Peduli Pilar Masyarakat Adat menampilkan sejumlah produk lokal buatan komunitas adat pada  festival Peruhutanan Sosial Nusantara (PeSoNa) yang dihelat pada 6-8 September 2017 di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.
“Tidak semua produk komunitas bisa dipamerkan, dan kita mobilisasi yang paling dekat dengan Jakarta,” kata  Project Manager Peduli, Kemitraan, Moch Yasir Sani, Rabu (7/9). 

Produk-produk yang dipamerkan kata Sani, juga tematik  karena PeSoNa sendiri merupakan ajang pertemuan antar stakeholder(Kementerian/Lembaga, NGO/LSM, dunia usaha, Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial, Kelompok Tani/Masyarakat) yang bergerak di bidang Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan sekaligus untuk mempromosikan hasil kerja yang telah dicapai selama ini.

Meskipun membuka stand sendiri untuk menampilkan produk-produk komunias dalam project Kemitraan lainnya, namun Kemitraan secara khusus menampilkan produk dari Baduy, yang merupakan komunitas adat Dampingan Rimbawan Muda Indonesia (RMI).

Melalui RMI, kemitraan menghadirkan Ny. Misnah, salah seorang penenun yang juga penggerak kelompok penenun perempuan di Baduy. Misnah menggelar  produk madu, tenun, pakaian khas baduy dan berbagai pernak-pernik produk kebudayaan Baduy yang berasal dari pengelolaan hutan adat yang mereka pertahankan selama ini. 

Selain menggelar produk-produk Baduy, Ny. Misnah juga memperagakan langsung caranya menenun Perempuan Baduy, sehingga menarik banyak perhatian pengunjung.
Albert, satu dari sekian ramai pengunjung stand Kemitraan mengatakan bahwa pameran yang memberikan citra rasa khas produk-produk masyarakat yang masih hidup di dalam dan di sekitar hutan, atau komunitas yang memanfaatkan hutan, dirasakan sangat menarik untuk melihat bagaimana sesungguhnya hubungan dan relasi komunitas tersebut dengan hutan di sebagai kampung di Indonesia.

Monday, September 4, 2017

Bupati Lebak Dukung Pengelolaan SDM Berbasis Masyarakat

Photo Dokumen RMI
LEBAK- Kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan RMI selama ini (di Kasepuhan Karang, red). Karena keterbatasan kemampuan dan dana, Pemda butuh dukungan dari RMI,” ungkap Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya. Ungkapan ini disampaikan Bupati saat pertemuan dengan RMI di ruang pertemuan Pemda, Rabu, 30 Agustus.

Sebelumnya, RMI menyampaikan perkembangan Kasepuhan Karang sejak ditetapkan pada akhir tahun 2016 lalu. Saat ini RMI bersama masyarakat Kasepuhan Karang (pemuda, perempuan dan kelompok marjinal lainnya) mengembangkan beberapa kegiatan dalam skema program PEDULI. Di antaranya adalah sekolah lapang, penguatan kelembagaan adat dan pengembangan ekowisata. Baca selengkapnya

Tuesday, June 6, 2017

Cegah Kebakaran, Warga Baduy Luar Butuh Mitigasi Bencana

Yasir Sani (PM Kemitraan) ketika mengunjungi warga Baduy Luar yang bertahan sementara di bawah terpal dari plastik setelah dilanda musibah kebakaran minggu lalu. Photo Aji Panjalu.
*Kemitraan dan RMI Serahkan Bantuan

Banten-Untuk mencegah bencana kebakaran yang melanda perkampungan, warga Baduy membutuhkan program mitigasi guna mencegah bencana kebakaran berulang kembali.

Demikian diungkapkan oleh Communications Specialist Kemitraan, Alexander Mering, usai melakukan kunjungan dan menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban kebakaran di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (5/6) kemarin.

“Pengetahuan mitigasi ini dimaksud, bisa digali dari kearifan lokal masyarakat Baduy sendiri, terutama Baduy Dalam. Jadi tidak harus menggunakan alat-alat canggih dan modern,” tegas Mering. 

Dia sangat yakin, bahwa peletakan atau cara memasang hawu(Tungku dari Tanah Liat) dan Parako (Perapian) di dalam rumah orang Baduy Dalam sudah diperhitungkan dengan cermat. Karena dilihat dari struktur maupun secara teknis pemasangan, kelihatan kalau hal tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana kebakaran.
Dari pengalamannya bekerja bersama masyarakat adat lebih dari 10 tahun terakhir, Mering menemukan cukup banyak praktik-praktik dalam budaya masyarakat adat berupa tatakelola pengendalian bencana. Seperti pengendalian api, air, tanah, udara bahkan hama. Misalnya  kata dia yang pernah dijumpainya di masyarakat Dayak di Kalimantan, Kasepuhan di Lebak,  dan Topo Uma di dataran tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Untuk itu pada pelaksanaan fase III Program Peduli yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) di wilayah masyarakat Baduy dan Kasepuhan, di Lebak, dia berharap juga bisa menemukan kearifan lokal kedua masyarakat adat tersebut yang terkait dengan mitigasi bencana, salah satunya bencana kebakaran. Ditambahkannya, Program Peduli sendiri merupakan program pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

Sejak peristiwa kebakaran yang melanda 83 rumah milik 118 KK Baduy Luar,  di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabuapten Lebak, Banten Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) turut melakukan penggalangan dana dan menyalurkan sejumlah bantuan.  

Ketua RT setempat, Ahdi yang menerima langsung bantuan mengatakan hingga Senin (5/6) kemarin sudah cukup banyak bantuan yang mengalir ke Cisaban. Baik yang disalurkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, private sector dan individu yang bersimpati pada korban. 

Bantuan berupa barang, bahan bangunan, pakaian, makanan maupun uang.   Antara lain bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 miliar lebih. Terdiri dari uang Jaminan Hidup (Jadup) sebesar Rp 328.500.000 dan bantuan logistik senilai Rp 68 juta lebih.
Sementara itu staf RMI, Novytya Ariyanti yang turut mengantar bantuan bersama wartawan dan dua relawan lainnya mengatakan, bahwa kedatangan RMI, Kemitraan, dan PWKI, kali ini adalah untuk yang kedua, setelah minggu lalu menyalurkan bantuan berupa uang dan selimut kepada para korban. Saat ini kata Novytya Ariyanti, warga Cisaban tengah sibuk membangun rumah-rumah tradisional mereka dari kayu dan bambu. (*)

Monday, October 17, 2016

Desa Kanekes Gelar Festival Baduy 2016

Download Undangan di sini
Untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur budaya, serta prinsip-prinsip keseimbangan dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA), Perangkat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten, bersama para pengrajin tenun dan pelaku budaya Baduy bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) dan Disporapar Kabupaten Lebak Banten akan menggelar Festival Baduy pada akhir Oktober 2016 mendatang.

“Ide ini  juga dalam rangka mempromosikan prinsip Gunung teu meunang  dilebur, Lebak teu meunang dirusak (Gunung tidak boleh dihancurkan, Lembah tidak boleh dihancurkan),” ujar  salah satu Fasilitator Program Peduli dari RMI Bogor yang ikut menginisiasi acara tersebut, Selasa (17/19).
Festival ini sendiri merupakan inisiatif dari ide para Perangkat Desa Kanekes, para penenun dan warga Baduy yang didukung oleh Program Peduli untuk inklusi sosial.

Nilai-nilai yang yang selama ini dijaga dan dipertahankan masyarakat Baduy diharapkan dapat menginspirasi dan dijjadikan pembelajaran semua pihak dalam menata, mengatur, dan mengimplementasikan tatakelola/tata kuasa sumberdaya alam agar tetap memberikan manfaat bagi hidup manusia tetapi teetap terjaga dan lestari.  

Festival Baduy 2016 ini akan menampilkan pameran produk unggulan berupa tenun khas Baduy dan kerajinan kreatif lainnya, pameran kuliner Baduy, pentas seni dan budaya, workshop tata kelola desa. “Lebih dari 500 penenun Baduy luar akan tampil dalam acara tersebut untuk memecahkan rekor menenun,” tambah Aji.

Kepala Desa Kanekes, Jaro Sa’ ija mengatakan warga Kanekes atau yang dikenal dengan sebutan Baduy telah menjaga alam dan hutan di wilayah itu sejak jaman dahulu kala, dengan prinsip-prinsip  berkelanjutan, dengan memanfaatkan SDA seperlunya tanpa berlebihan.  

 Secara umum keberadaan masyarakat Adat Baduy telah diakui dalam bentuk Perda Lebak No. 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Masyarakat Baduy di Kabupaten Daerah Tingkat II Lebak dan Perda No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Baduy. 

Dengan aturan adat yang dipegang teguh, mereka mengelola Leuweung Kolot  atau  Hutan Adat (2.492,06 ha), lahan pertanian berupa huma (2.585,29 ha) dan pemukiman (24,50 ha) tetap terjaga dan terkelola dengan baik hingga sekarang di lahan seluas 5.136,58 ha ( Disporapar Lebak , 20 16 ).  
Warga Baduy yang kini berjumlah 3.300 KK atau 11.667 jiwa percaya bahwa tanah atau lahan adalah ambuatau ibu yang memiliki arti penting dan wajib dihormati, layaknya anak yang menghormati ibu nya ( RMI, 2016 ).  

Karena itu seluruh siklus hidup masyarakat Baduy tidak dapat dilepaskan dari keberadaan hutan, alam dan budaya perladangan yang mereka anut.

Festival ini akan melibatkan banyak pihak. Selain warga Baduy sendiri, pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga para pihak lain yang menghormati budaya masyarakat Baduy.

Monday, August 1, 2016

Deputi VII Kemenko PMK ke Baduy Luar dan Baduy Dalam

Deputi VII Kemenko PMK dan jajarannya bersama tokoh adat masyarakat baduy dalam Baduy Luar sera perangkat desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Photo Dok Kemenko PMK
LEBAK- Kemenko PMK mengunjungi Masyarakat Adat Baduy, Baduy Luar (Kampung Kaduketug) dan Baduy Dalam (Kampung Cikeusik), Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten selama dua hari (28-29 Juli 2016). Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kemenko PMK, I Nyoman Shuida, memimpin rombongan Kemenko PMK dalam kunker kali ini yang terdiri atas Staf Ahli bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Sidqy Lego Pangesthi Suyitno dan mitra kerja ‘Program Peduli.’ Membaca selanjutnya artikel ini silahkan klik link berikut.

Wednesday, June 1, 2016

Sistem Informasi Desa Ala Baduy

Kain Tenun karya perempuan Baduy. Photo Indri Guli
RMI-Baduy merupakanga kini. Kain tenun, misalnya. Agus Sukanta, Sekretaris Kecamatan Leuwi Damar menyatakan bahwa saat ini ada lebih dari 500 perempuan penenun yang ada di Baduy. Sayangnya, penjualan tenun Baduy belum bisa dilakukan secara optimal, hanya terbatas penjualan langsung kepada wisatawan yang berkunjung ke Baduy.
Selain tenun, berbagai produk kerajinan lain juga dihasilkan oleh masyarakat Baduy, seperti selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup), dan berbagai aksesoris lainnya. Hasil kerajinan tersebut memiliki kekhasan yang unik, baik dari segi bahan maupun bentuknya yang berbeda dengan daerah lain. Masyarakat Baduy masih menggunakan produk kerajinan sebagai barang kebutuhan mereka sehari-hari yang menunjukkan ciri khas masyarakat Baduy yang diwariskan oleh karuhun mereka.
Perempuan Baduy sedang menenun di beranda rumahnya di Desa Kanekes, Lebak. Photo by Indri Guli
Persoalan yang dihadapi saat ini adalah kurangnya promosi dan akses pasar bagi produk-produk kerajinan yang dihasilkan masyarakat Baduy, padahal peluang pasar untuk produk lokal, hasil kerajinan masyarakat adat, sangat diminati berbagai kalangan. Kondisi tersebut mendorong perlunya terobosan baru agar tercipta peluang untuk memperluas jaringan pasar produksi masyarakat Baduy, salah satunya pemanfaatan teknologi informasi.
Pada konteks penerapan teknologi informasi ini bagi masyarakat Baduy, masih menjadi tantangan hingga saat ini. Masyarakat Baduy memiliki aturan adat yang membatasi penggunaan teknologi dalam kehidupan, sehingga masih perlu dijajaki peluang penggunaan teknologi informasi ini dengan pembahasan yang melibatkan beberapa komponen masyarakat Baduy. Namun Pemerintah Desa Kanekes sendiri menyadari akan adanya kebutuhan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.
Selain tenun warga Baduy juga menjual berbagai jenis kerajinan tangan, termasuk tas selempang dari kulit kayu ini. Photo Indri Guli
Melalui Program Peduli, RMI dengan didukung oleh Kemitraan, menyelenggarakan pelatihan dengan tema “Pemanfaatan Sistem Informasi Desa Untuk Promosi Produk Masyarakat Baduy” di Desa Kanekes, Senin (30/5). Kegiatan yang diikuti oleh 25 orang peserta ini termasuk dalam peningkatan kapasitas bagi pemerintahan Desa Kanekes dalam pengelolaan Sistem Informasi Desa (SID). Selain perangkat desa, pelatihan juga melibatkan para perempuan pengrajin tenun untuk dapat mulai memahami peluang dan strategi alternatif penjualan produk.
Saat ini, Pemerintah Desa Kanekes sudah memiliki website desa kanekes.desa.id. Dalam pelatihan ini juga sekaligus peluncuran secara resmi website yang kelak berfungsi sebagai media informasi berbagai kegiatan masyarakat Baduy, termasuk potensi desa dan berbagai produk yang dihasilkan.

Monday, May 30, 2016

Masyarakat Adat Baduy Krisis Lahan Pertanian

Jaro Saija menyerahkan selendang tenun Suat Baduy kepada Rizki Sisindra, utusan Kemenko PMK, Senin (30/5) di Desa Kanekes. Phtoto by Mering (Kemitraan)

Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahun membuat masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, kekurangan lahan untuk pertanian dan peruntukan lainnya.

Demikian disampaikan oleh Jaro (Kepala Desa) Kanekes, Saija, di hadapan utusan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Senin (30/5).

"Tanpa lahan untuk ngahuma (berladang), eksistensi orang Baduy akan terancam. Karena ngahuma adalah bagian dari upaya menegakkan agama dan adat istiadat kami orang Baduy," kata Saija.

Berdasarkan hasil sensus tahun 2016, populasi orang Baduy sudah mencapai 11.654 jiwa, sedangkan total luas lahan yang dimiliki kurang dari 6000 hektar. Pertumbuhan jumlah penduduk Baduy sejak tahun 90-an telah mencapai 40 persen. 

Dari luasan tersebut 60 persen tidak boleh digarap, karena telah ditetapkan secara adat sebagai kawasan lindung atau dalam bahsa Baduy disebut Leuweung Kolot. 

Wilayah ini dipertahankan sebagai kawasan konservasi yang menurut tradisi mereka tak boleh dirusak. Sementara yang boleh digarap untuk lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, dan peruntukan lainnya tak lebih 2000 hektar saja.

Salah seorang Kaur Ekonomi dan Pembangunan Desa Kanekes, Arman mengatakan kekurangan akan lahan tersebut sebenarnya sudah dirasakan warga Baduy sejak tahun 80-90-an. 

Meskipun Pemkab Lebak sudah menerbitkan Peraturan Daerah No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Hak atas Ulayat Baduy, dengan luas wilayah lebih dari 5000 hektar, namun ternyata tidak mampu menjawab persoalan krisis lahan bagi masyarakat Baduy tersebut.

Saija menambahkan,  kebutuhan lahan yang baru sudah diidentifikasi untuk ngahuma sekitar 60 hektar. Luas tersebut menurut dia baru untuk para tetua adat  Baduy Dalam yang berjumlah sekitar 30 orang. 

"Perhitungan sederhananya adalah, dari jumlah perangkat adat di dalam masyarakat Baduy Dalam, tadi dikalikan 2 hektar," kata Saija.

Karena itu pihaknya sudah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Kecamatan Leuwidamar, dan Pemkab Lebak untuk menambah luasan kawasan hak ulayat yang sudah terasa sangat sempit tersebut.

"Namun sampai sekarang, belum ada jawaban dari pemerintah," pungkas Saija.

Wednesday, February 17, 2016

37 Desa di Lebak Ikuti Pelatihan Jurnalisme Warga

SOBANG-Dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis aparatur dan operator Sistem Informasi Desa (SID) di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Rimbawan Muda Indonesia (RMI) bekerjasama dengan Pemerintahan Kecamatan Sobang menyelenggarakan pelatihan jurnalisme warga dan teknik penggalian data.

“Saya ingin para aparatur desa sampai tingkat RT benar-benar siap menjalankan tugasnya dengan baik,” ungkap Camat Sobang, Wijayanto Yantika, S.Sos,  usai membuka acara tersebut, Rabu (17/02) kemarin.

Karena menurut dia pelaksanaan UU Desa No 6 tahun 2014 merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang bagi mereka. Setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan professional.  Apalagi tugas yang terkait data, dan penggunaan uang negara, memang harus hati-hati dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Sementara itu Program Manager Program Peduli RMI, Rojak Nurhawan mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Program Peduli di beberapa wilayah kesepuhan di Kabupaten Lebak.

“Program Peduli sendiri  merupakan sebuah program pemerintah dibawah koordinasi Kementrian Kordinator bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) untuk isu Inklusi Sosial,” kata Rojak.

Dia menambahkan, kegiatan hari pertama khsusus untuk memberi pembekalan teknis kepada 45 peserta, yaitu para ketua RT dari Desa Sindang Laya, Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, ditambah 3 desa tetangga dari Desa Cibarani Kecamatan Cirinten, Desa Jaga Raksa Kecamatan Muncang, dan Desa Wangun Jaya Kecamatan Cigemblong.

Sementara pelatihan dilanjutkan bagi para operator Sistem informasi Desa dari
37  Desa.  Yaitu 15 Desa dari Kecamatan Sajira, 10 Desa di Kecamatan Sobang, 12 Desa dari Kecamatan Muncang, dan satu desa dari Kecamatan Cirinten, dan satu desa dari Kecamatan Cigemblong.

Tuesday, January 12, 2016

Gerakan Perempuan Cirompang Peduli

Photo Dok RMI
Gerakan perempuan masyarakat Adat Kasepuhan Cirompang menanam sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga, semakin mengukuhkan peran serta eksistensi perempuan Cirompang dalam komunitas adat maupun gerakan desa. 
#IDInklusif

Saturday, October 24, 2015

Beradaptasi dengan Ubah Jadwal Tanam

Design @PeduliAdat
LEBAK, KOMPAS — Cuaca yang cenderung tak menentu akibat perubahan iklim, sejauh ini bisa diadaptasi masyarakat adat Kasepuhan di Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Secara reguler, mereka mengubah jadwal tanam padi dan mengelola hasil panenan dengan sistem lumbung.
Masyarakat adat Kasepuhan di Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten, menggelar Pare Gede, Sabtu (24/10). Ini menandai penyimpanan hasil panen ke dalam lumbung untuk ketahanan pangan.
Masyarakat adat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Halimun-Salak itu tak pernah kekurangan pangan. Bahkan, di tengah kemarau panjang, mereka menggelar festival Pare Gede, Sabtu-Minggu lalu. Acara itu bagian dari prosesi menyimpan padi hasil panen sebagai cadangan untuk ketahanan pangan hingga setahun mendatang.
“Setiap tahun, Olot (pemimpin adat) menentukan waktunya kami harus tanam padi serta situasi apa yang harus diantisipasi. Misalnya, tahun ini diantisipasi bakal kemarau panjang sejak tahun lalu. Dengan sistem ini, kami tak pernah gagal panen,” kata Jaro (Kepala Desa) Cirompang, Sarinun, Minggu (25/10).
Cirompang salah satu desa adat Kasepuhan yang berpenduduk 518 keluarga atau 1.551 jiwa. Sebagian besar penduduk di desa itu petani pemilik lahan (42 persen), buruh tani (38 persen), dan sisanya buruh serabutan serta gurandil(penambang emas).
Olot Amir mengatakan, setiap tiga tahun ia menggeser jadwal tanam padi selama tiga bulan sepuluh hari. Jika tahun ini musim tanam dilakukan awal Oktober, tahun 2018 jadwal tanam akan bergeser menjadi tanggal 10 Desember. Namun, jadwal ini bisa juga berubah sesuai dinamika yang ditemui dari hasil observasinya.
Untuk memutus siklus hama, warga diminta menanam padi serentak, demikian juga saat panen. Setiap warga wajib menanam padi besar (pare gede) dengan berbagai varietas lokal, yang umumnya bisa dipanen setelah enam bulan masa tanam. Setelah panen pare gede, sebagian warga menanam padi pendek yang memiliki masa panen tiga bulanan.
Desa Cirompang, menurut Manajer Bidang Pemberdayaan Masyarakat Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Rojak Nurhawan, memiliki setidaknya 20 jenis padi lokal. “Hampir semua masyarakat adat Kasepuhan memiliki padi lokal hasil pemuliaan secara turun-temurun,” katanya. “Bahkan, di Kasepuhan Citorek ada sekitar 30 varietas padi lokal.”
Sistem lumbung
Sarinun mengatakan, warga Kasepuhan memiliki dua jenis lumbung padi (leuit). Pertama leuit pribadi, lumbung milik keluarga yang berfungsi menyimpan cadangan pangan sepanjang tahun. Jika cadangan keluarga ini habis, warga bisa meminjam padi ke leuit komunal yang disebut “si Jimat.”
Menurut Sarinun, warga yang meminjam bisa mengembalikannya setelah panen atau jika tidak mampu, bisa menggantinya dengan itik, ayam, atau uang senilai padi ini. Selain sebagai cadangan pangan bagi warga Kasepuhan selama musim paceklik, leuit komunal juga bisa digunakan saat ada pesta adat.
Dengan sistem kalender tanam dan lumbung, menurut Rojak, masyarakat adat Kasepuhan terbukti mampu bertahan dari perubahan iklim. Ironisnya, masyarakat Kasepuhan saat ini justru menghadapi ancaman perluasan Taman Nasional. Sejak 2003, perluasan Taman Nasional telah mencaplok kawasan adat yang sudah ditinggali masyarakat Kasepuhan dari generasi ke generasi.
Data RMI, terdapat 11 kasepuhan dari 58 di Kabupaten Lebak, termasuk di Desa Cirompang, yang wilayah adatnya diklaim masuk dalam wilayah kelola Taman Nasional. Setidaknya, ada 14.138 hektar area Kasepuhan tumpang tindih dengan hutan negara.
“Saat ini, dengan dukungan sejumlah lembaga, termasuk Kemitraan, masyarakat adat Kasepuhan berupaya agar tanah dan hak adat mereka diakui negara,” katanya. (AIK)
Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/10/27/Beradaptasi-dengan-Ubah-Jadwal-Tanam