Showing posts with label Desantara. Show all posts
Showing posts with label Desantara. Show all posts

Thursday, August 9, 2018

Kemenko PMK aids marginal communities through Program Peduli


Head of Sumenep Tourism Department at the opening of Kangean Coastal Festival end of July 2018. This event is a collaboration between Program Peduli and Pemdes Pajenangger Sumenep. Photo credit: Mering

SUMENEP -  Program Peduli under the Coordinating Ministry for Human Development and Cultural Affairs (PMK), the government seeks to help marginalized and excluded groups, that find it difficult to obtain rights to basic services and experience barriers to participation in the development process.

Communication specialist and Program Peduli Partnership Project officer, Alexander Mering, revealed that Program Peduli, implemented by the Partnership for Governance Reform is a continuation of the National Program for Community Empowerment (PNPM Peduli program). The program changed its name to Program Peduli under President Joko Widodo.

"To implement the program, Kemenko PMK cooperates with a number of national civil society institutions, one of which is Partnership, that focuses on remote local indigenous communities. Although this is a government program to reach marginalized excluded groups, the Partnership collaborates with 10 local NGOs, " he said.

When the first phase of the program was implemented in 2014, the Kemenko PMK sent a letter to local governments that became the program sites. This was to ensure coordination at the village, regency and provincial levels. One of the objectives of this program is to ensure that the excluded communities can access policies at every level of local government.

"Many of the activities are integrated with policies made by the local government. For example, at the village level, this program also helps increase the capacity of village officials, from planning to improving basic services,” he added.


Achievements of Government Programs and Policies

Mering, revealed that every activity carried out by the Partnership involved a lot of policies both at the village and district level. The program is owned by the local government while Program Peduli help facilitate.

"In several places the Partnership, through partners in the regions even gave birth to a development roadmap which was subsequently integrated with development in the regions. With this collaboration, the beneficiaries are not just our work area, but also have an impact on other villages outside the Peduli Program,” he said.

The basic objective of this program is to strive to improve basic services, social acceptance and access to policies for groups of people who have been excluded. According to Mering, there have been quite a number of achievements. At least up to semester five of Phase II of the Peduli program, it has reached more than 9,000 direct beneficiaries. Of these, at least 2503 people have gained access to Identity services or 308% of the Partnership's total target of only 813.This is 1966 people or 97% of the 2028 program targets.

In phase II of the program, the Partnership noted that at least 95% of the 2721 marginal targeted groups, have now actively participated in various activities aimed at increasing their awareness and rights. At least 70 government service units have experienced an increase from January 2017 till July 2018 after Program Peduli facilitated. These achievements, said Mering, have yet to include activities done by the other six pillars outside the Partnership.

At the national level, Mering added, the program has also helped the indigenous Kasepuhan Karang retain their rights, especially through the Social Forestry program.

"In Sigi District there are two indigenous forests that are being proposed to the Ministry of Environment and Forestry (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). In Lebak Regency, Banten there are also two communities that await confirmation," he said.

Tuesday, August 22, 2017

Cerita Rakyat Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Klik disini

Berikut ini adalah buku kumpulan folklor hasil dari penulisan yang dilakukan tim Desantara bekerja sama dengan Naladwipa Institute atas dukungan Kemitraan melalui Program Peduli. Sebagai bagian dari kerja kebudayaan, penulisan ini menjadi penting untuk memberikan ruang bagi proses pendokumentasian pengetahuan komunitas. Proses ini bagian dari kerja pemaknaan terhadap proses perubahan yang terjadi dalam komunitas dan bagaimana komunitas melakukan adaptasi terhadap perubahan, termasuk dengan menggunakan berbagai simbol. Download buku disini

Tuesday, August 15, 2017

Arti Kemerdekaan bagi Dayak Kenyah Lepoq Jalan


Kali ini kami mengangkat cerita mengenai masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan di desa Lung Anai di Kutai Kartanegara. Desa Lung Anai sendiri sudah menjadi desa Budaya sejak tahun 2005 sebagai hasil pemekaran Desa Sungai Payang.

Namun demikian, masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan masih mengalami permasalahan ketidakpastian ruang hidup dan sumber penghidupan akibat konflik lahan dengan masyarakat desa sekitarnya dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka juga menerima stigma sebagai masyarakat pendatang dan pencuri lahan oleh masyarakat desa sekitarnya.

Masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq sendiri sebenarnya masih memegang teguh kebudayaan dan adat istiadat mereka. salah satu budaya yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah Uman Undrat atau pesta panen Lung Anai sebagai rasa syukur atas panen padi ladang mereka.
Kemerdekaan bagi mereka memiliki banyak arti. #Merdeka itu berarti kebebasan mengolah tanah sesuai dengan tradisi mereka. Merdeka itu berarti bebas dari rongrongan korporasi yang berusaha mengambil tanah penghidupan mereka. Merdeka berarti adanya perhatian penuh dari pemerintah untuk ikut mengembangkan adat istiadat suku dayak di Lung Anai sebagai kekayaan nusantara. Sumber asli klik di Peduli Adat.

Wednesday, May 31, 2017

Riset Tentang Dayak Kenyah, Kader Peduli Diundang ke Norwegia

Asman Azis

Jakarta-Studi mengenai pergulatan agama, pariwisata dan ruang hidup masyarakat Dayak Kenyah di Lung Anai, Kalimantan Timur  mengungkapkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara hancurnya sumber daya alam di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan dimulainya operasi militer pemerintah Indonesia tahun 1965 di sana.

Hal tersebut diungkapkan Asman Azis, Program Manager Desantara, saat menghadiri rapat konsolidasi Program Peduli, pilar Masyarakat Adat yang diselenggarakan Partnership-Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Jakarta, Kamis (1/6) kemarin.

“Saat itu jika ada warga yang tidak memeluk agama versi negara, mereka diintimidasi oleh militer dan dituduh PKI,” tegas Asman yang juga Ketua Lakpesdam NU Kaltim.

Dikatakannya, pada 1963, saat pemerintah Indonesia melancarkan operasi penumpasan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), disusul dengan peristiwa 30 S/PKI  pada tahun 1965, orang Dayak Kenyah yang tidak memeluk salah satu agama resmi negara bukan saja dicap sebagai PKI, bahkan banyak yang disiksa serta dibunuh.

Kondisi inilah yang kemudian kata Asman, memuluskan berbagai praktik eksploitasi Sumber Daya Alam di Kalimantan, berupa Hak Pengusahaan Hutan (HPH), pertambangan dan perkebunan bersekala besar yang merugikan masyarakat Dayak, terutama Dayak Kenyah. Dimana selama 1996-2012 saja, Kaltim kehilangan hutan alam rata-rata seluas 92.900 hektare per tahun. Sementara secara nasional Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar pertahun, kondisi ini diperparah lagi dengan maraknya alih fungsi lahan serta kebakaran hutan yang terus menerus terjadi. 

“Di dalam salah satu chapter tesis saya itu, secara khusus membahas bagaimana peran Program Peduli dalam mendorong restorasi nilai-nilai budaya dan pengakuan terhadap masyarakat Adat Dayak Kenyah.  Saya menyebutnya constructive engagement,” kata Asman.

Warga Dayak Berladang di dekat Tambang Batu Bara, di Kaltim
Karena sejarah konflik yang panjang tersebut, serta konflik tenurial dengan pemodal  membuat masyarakat adat Dayak Kenyah terpojok dan tidak memiliki ruang untuk hidup dan menjalankan nilai-nilai budaya mereka masyarakat adat yang sekaligus juga adalah warga negara.

Penelitian untuk tesis yang dilaksanakan selama pelaksanaan Program Peduli 2017-2016 di Lung Anai ini, membuat Asman (yang baru saja menyelesaikan studinya di Center for Religious and Cross Culture Studies (CRCS), Sekolah Pasca Sarjana UGM) diundang oleh Royal Norwegian Ministry of Climate and Environment dan UNDP untuk menghadiri pertemuan Interfaith rainforest initiative di kota Oslo, Norwegia pada 19-21 Juni 2017 mendatang.

Pertemuan Lintas Iman, deforestasi dan perubahan iklim ini adalah salah satu agenda terkait kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Norwegia tentang RDD+ yang sudah dimulai sejak Mei 2010.

Terpilihnya Asman untuk menghadiri pertemuan tersebut, juga tidak terlepas dari locus penelitiannya yang mengambil studi kasus di Kaltim. Dimana hanya tinggal 3 pulau saja di Indonesia (Sumatera, Kalimantan, dan Papua) yang relatif masih punya hutan, namun juga sangat cepat laju deforestasinya. Dan hutan di ketiga pulau ini pula yang masih tersisa dan dapat diandalkan untuk mengurangi efek rumah kaca. (Mering)

Monday, September 5, 2016

Kembali ke Nilai-Nilai Luhur Masyarakat Adat Indonesia


Tari dayak dari desa wisata Long Anai. Photo dok Peduli Adat


“PRESS RILIS PEDULI DAY”
  
JAKARTA - Sudah saatnya Indonesia kembali ke nilai-nilai luhur masyarakat adat dalam segenap gerak pembangunan bagi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Kondisi ini menjadi sangat penting, mengingat sudah 71 tahun merdeka, tetapi kondisi masyarakat adat dan lokal terpencil di negeri ini belum mendapatkan arti akan kemerdekaan.

“Bahkan Menteri Sosial sendiri sudah menyerukan agar segera dilakukan new initiative guna menjawab persoalan-persoalan tersebut,” ujar Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan, Kementeriaan Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), I Nyoman Shuida,  di Jakarta (27/8).

Nyoman meyampaikan hal tersebut dalam rangka persiapan pelaksanaan event nasional, Peduli Day untuk mempertemukan seluruh pelaku, stakeholder dan penerima manfaat Program Peduli yang digelar oleh Partnership for Governance Reform – Kemitraan,  berkerjasama dengan Kemenko PMK, 31 Agustus 2016.

Nyoman menambahkan bahwa secara keseluruhan, program ini memiliki 6 (enam) sasaran yaitu anak dan remaja rentan, masyarakat adat terpencil, kelompok agama minoritas dan kepercayaan lokal, korban pelanggaran HAM, orang dengan disabilitas, dan kaum waria. Program ini kata dia, merupakan program yang diinisiasi pemerintah Indonesia untuk mendorong terjadinya inklusi sosial dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Program ini berada di bawah koordinasi Kemenko PMK, bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Pemerintah Australia.

Sementara itu Project Manager  dari Partnership/Kemitraan,  Moch, Yasir Sani mengatakan lembaganya adalah salah satu pelaksana Program Peduli yang khusus  bekerja untuk pilar “masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam”.

Bentuk inklusi sosial yang didorong Partnershipyaitu adanya diterimanya peran dan posisi masyarakat adat dan lokal terpencil yang terkucilkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; terpenuhinya hak atas layanan dasar, membuka akses bagi masyarakat adat dan lokal terpencil yang tereksklusi untuk memperoleh kesetaraan sosial; serta mendorong terbangunnya kemitraan dengan semua kelompok masyarakat sebagai bentuk sosial inklusi.

Sejak memulai program ini dua tahun lalu hingga pertengahan Agustus 2016, Partnershiptelah menjangkau  tidak kurang dari 40 ribu jiwa penerima manfaat langsung maupun tak langsung yang tersebar di 19 kabupaten dan 13 provinsi di Indonesia.

“Sekitar sembilan puluh persen layanan dasar di wilayah dampingan mitra-mitra kami sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Terutama layanan pendidikan dan kesehatan, termasuk akses terhadap kepemilikan administrasi kependudukan,” kata Sani.

Selain berhasil meningkatkan partisipasi komunitas masyarakat adat dalam proses-proses perencanaan pembangunan, program ini juga telah mampu meningkatkan peran pemerintah daerah maupun pusat dalam mendorong terjadinya inklusi sosial yang muncul dalam bentuk kebijakan dan politik anggaran mulai dari level desa, Pemkab hingga pemerintah pusat.

Para anggota komunitas juga sudah dapat mengakses berbagai bantuan pemerintah, seperti kartu PJS, kartu KIP, program kejar paket A, B dan C, hingga infrastruktur jalan dan perumahan, meski pun masih dalam jumlah terbatas. Di beberapa wilayah dampingan juga telah tumbuh aktivitas ekonomi produktif, yang dapat membantu kelangsungan hidup komunitas, peternakan, perkebunan kopi, sayur-sayuran, hingga koperasi

“Inilah yang dinamakan sosial inklusi, yaitu mengembalikan nilai-nilai luhur masyarakat adat dan lokal terpencil dalam bentuk sikap kegotongroyongan, saling tolong menolong, dan bertoleransi antar sesama menjadi “ruh” dalam mengatasi persoalan yang ada di masyarakat khususnya lokasi-lokasi yang ada masyarakat adat dan lokal terpencil,” tegas Sani.  Dia menambahkan bahwa capaian yang dijelaskannya tadi, tidak terlepas dari keterlibatan seluruh lembaga pendukung, seluruh Civil Society Organization (CSO) mitra, stakeholder nasional maupun lokal termasuk para champion di level komunitas yang perannya sangat besar di lapangan.

Untuk menyelenggarakan program ini Partnership mengerahkan tak kurang dari 220 kader, ditambah 70 lebih fasilitator yang berasal dari 14 CSO mitra lokal, yaitu SSS Pundi Sumatera, Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Karsa Institute, Yayasan Tanpa Batas (YTB), Samanta, Sulawesi Community Foundation (SCF), AMAN Riau, AMAN Maluku, Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta, Yayasan Desantara, Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), Air Mata Air (AMAIR), MPM Muhammadiyah, dan Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM).  Setiap lembaga menangani suku-suku di wilayah kerjanya masing-masing. Selangkapnya  data dan lokasi program peduli bisa diakses di:
http://www.peduliadat.org/2016/06/infografis-profil-masyarakat-adat.html.

Peduli  day yang akan menghadirkan presenter beken, Prita Laura ini juga akan menyuguhkan beragam aktivitas seperti talks how, pentas seni, pidato kebudayaan, pemutaran video pendek, pameran photo hingga display produk komunitas masyarakat adat dampingan Program Peduli. *

Untuk informasi dan konfirmasi lebih lanjut dapat menghubungi Manager Program Peduli Kemitraan

Yasir Sani
HP: 0813 1666 7077
Email: yasir.sani@kemitraan.or.id

Tuesday, June 14, 2016

Makan Bersama sebagai Bentuk Syukur

Sumber photo dan text: Radar Kaltim
Hermansyah, Tenggarong

DIKARAUINAI alam yang subur sebagai tempat bercocok tanam guna menghidupakan keluarga, merupakan anugrah yang tak ternilai bagi warga suku Dayak Kenyah di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kukar. Sebagai bentuk terima kasih, setiap tahun mereka menggelar syukuran pasca panen yang disebut “Uman Undrat” yang artinya makan bersama dengan rasa gembira dan penuh syukur. Baca selengpanya

Sunday, May 29, 2016

Uman Undrat: Idea Kebahagiaan dan Cara Mengada Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Potong Babi untuk persembahan sebagai wujud syukur atas keberhasilan panen. (foto oleh Kasmani)
Oleh Muhammad Salim

Rinai hujan masih turun perlahan-lahan, sebagian menitis di sela-sela dedaunan, ketika para undangan mulai tampak dari gerbang desa. Mereka disambut oleh seluruh warga yang bersiap dengan pakaian terbaik. Sapei Sapaq, pakaian adat lelaki, beserta Mandau, dan Ta a, pakaian adat perempuan, menjadi dress code warga yang sudah dewasa—kecuali kami, rombongan Desantara yang datang bersama kolega Kemitraan dari Samarinda. Tidak ada aturan adat yang  mengharuskan tamu, sekalipun sudah dianggap seperti keluarga, memakai pakaian adat. Baca berita selengkapnya

Wednesday, May 25, 2016

Tradisi Pesta Panen yang Masih Melekat di Lung Anai

Tonton video di sini
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan masih mengguyur ketika warga Desa Lung Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sedang bersiap menyelenggarakan uman undrat atau pesta panen. Semangat mereka melakukan ritual adat tahunan itu seolah tak luntur meski hujan sempat menumbangkan salah satu umbul-umbul dekorasi.

Setiap Mei, warga Lung Anai, yang merupakan Suku Dayak Kenyah, selalu menyelenggarakan pesta panen. Hal tersebut merupakan akhir dari ritual mereka dalam menjalankan tradisi bertani.


Sumber:  CNN Indonesia

Meriahnya Pesta Panen Masyarakat Dayak Kenyah di Desa Lung Anai

TENGGARONG - Para pemuda menggotong lesung kayu sepanjang 6 meter ke Lamin Adat Dayak Kenyah.

Seorang perempuan menuangkan beras ke dalam lesung. Lalu para perempuan menumbuk beras menggunakan alu.

Pukulan alu itu seirama dengan alunan musik tradisional yang mengiringi prosesi mecaq undrat atau tumbuk beras.

Kegiatan ini memeriahkan uman undrat atau pesta panen tahunan di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kukar.

Beberapa tamu undangan ikut pula menumbuk beras hingga jadi tepung halus.

Tepung beras ini diayak dengan alat tradisional dari bahan bambu dan rotan. Kemudian tepung beras yang dicampur gula dan parutan kelapa dimasukkan dalam lubang bambu sepanjang 40 cm.

Kedua ujung lubang bambu disumpal dengan daun nangka, lalu dibakar dengan dijejer di tungku. Pekerjaan ini diserahkan pada kaum pria.

Warga Lung Anai menyebut penganan ini boloq.

Sumber: Tribun Kaltim

Tuesday, May 24, 2016

Cara Lung Anai Menjaga Tradisi Panen


Udoq kiba, tarian untuk mengusir roh jahat sampai hama penyakit di Desa Lung Anai, Loa Kulu, 
Kalimantan Timur. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Kutai Kartanegara, CNN Indonesia -- Hujan masih mengguyur ketika warga Desa Lung Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sedang bersiap menyelenggarakan uman undrat atau pesta panen. Semangat mereka melakukan ritual adat tahunan itu seolah tak luntur meski hujan sempat menumbangkan salah satu umbul-umbul dekorasi. Setiap Mei, warga Lung Anai, yang merupakan Suku Dayak Kenyah, selalu menyelenggarakan pesta panen. Hal tersebut merupakan akhir dari ritual mereka dalam menjalankan tradisi bertani.

Kepala Adat Dayak Kenyah di Lung Anai Ismail Lahang mengatakan pesta panen tidak boleh dilewatkan, meskipun tahun ini ada beberapa warga yang mengalami gagal panen akibat musim kemarau panjang.

"Ini adalah rasa syukur kami. Karena mulai awal kami menggarap lahan dan ladang, penuh dengan kesusahan dan was was. Ada kekacauan, luka, dan segala macam sehingga kami mengucapkan rasa syukur dengan pesta panen," kata Ismail saat ditemui usai Pesta Panen.

Dari kejauhan denting suara sluding atau klentengan yang dimainkan pemusik sebelum acara benar-benar dimulai, seperti sebuah panggilan bagi warga untuk menuju lamin adat yang berada di jantung desa.

Warga yang akan tampil dalam pesta terlihat mengenakan baju adat khas Suku Dayak. Sementara yang hanya menghadiri pesta, mengenakan baju biasa.

Acara dimulai dengan penyambutan tamu oleh Kepala Adat dan para penari sebelum memasuki lamin. Penyambutan berlanjut dengan tampilan tari-tarian di dalam lamin.

Dentingan slending atau klentengan dan dentuman sampek mengiringi tarian pertama yang ditampilkan, yaitu datun julut. Tarian kebersamaan dengan gerakan gemulai dari penari perempuan itu menandakan kelemahlembutan warga dalam menerima setiap tamu yang datang.

Suguhan tari-tarian berlanjut dengan tari Ajai oleh segerombolan anak laki-laki. Berbeda dengan gerakan tari perempuan, tari ajai memperlihatkan keperkasaan laki-laki, terlihat dari gerakannya yang banyak menghentakan kaki sambil memasang kuda-kuda, juga atribut maskulin, seperti perisai dari kayu.

Acara dilanjutkan dengan berdoa. Staf adat memimpin doa dengan menggunakan Bahasa Dayak Kenyah. Bagi yang tidak mengerti bahasa setempat, doa tersebut terdengar seperti nyanyian yang sesekali diselingi dengan seruan.


Usai doa dipanjatkan, waktunya potong babi. Seperti di daerah lain, pemotongan babi melambangkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan.

Seluruh orang yang berada di lamin diminta keluar sejenak untuk melihat prosesi penyembelihan babi. Staf adat memegangi babi dan meletakkanya di antara bambu yang disilangkan. Sementara itu Kepala adat memotong sendiri kepala babi menggunakan pisaunya.

Daging babi itu nantinya akan dimasak dan disuguhkan untuk makan bersama keesokan harinya.

Rangkaian Mencaq Undrat

Di sisi lain lamin, segerombolan laki-laki, lebih dari 10 orang, sudah mengambil posisi mengapit lesung yang sangat panjang. Setelah prosesi penyembelihan babi, mencaq undrat siap dilangsungkan. Dalam Bahasa Indonesia mencaq undrat berarti beras ditumbuk.

Lesung dengan panjang sekitar 6 meter digotong bersama-sama ke dalam lamin. Selain karena lesung yang terbuat dari kayu pa itu sangat berat, gotong royong juga melambangkan kebersamaan yang terjalin antarwarga.

Ketika lesung sudah siap di tengah ruangan, perempuan pembawa beras mengisi lesung. Kemudian disusul oleh beberapa perempuan pembawa alu.

Mereka lantas menumbuk beras sampai halus. Tak berapa lama, ada juga laki-laki yang ikut menumbuk beras. Kegiatan menumbuk diiringi musik yang senada dengan suara alu beradu dengan lesung.

Beras yang sudah hancur lantas diayak. Beberapa ibu sudah siap dengan ayakan yang terbuat dari bambu dan rotan. Tujuannya untuk memisahkan bagian yang halus dan yang masih berbentuk pecahan bulir beras.

Beras yang sudah sehalus tepung itu sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam bambu sambil bambu diketuk-ketukkan ke lantai, kemudian diisi kembali. Hal itu dilakukan agar bambu terisi penuh oleh tepung. Jika sudah penuh, ujung bambu ditutup dengan daun nangka.

Bambu-bambu yang sudah terisi tepung beras yang disebut undrat ao itu dibakar sampai matang, sampai warna hijau bambu berubah menjadi lebih pucat. Waktu memasak tergantung tingkat nyala dan meratanya api. Biasanya butuh 2-3 jam agar undrat ao matang dan bisa dimakan.

Undrat ao yang sudah matang dibawa kembali ke dalam lamin untuk dimakan bersama semua orang yang datang ke pesta panen. Prosesi itu dinamakan uman undrat. Memakannya harus dengan hati yang gembira karena itu berarti syukur atas pekerjaan warga yang berhasil dan dapat dinikmati.

Uniknya, undrat ao tak hanya dinikmati orang yang masih hidup. Orang-orang yang sudah mati pada tahun itu dan tak sempat merasakan pesta panen pun diajak menikmati undrat ao, namun dengan cara yang berbeda.

Tetua keluarganya melakukan sebuah ritual khusus. Mereka mengerik semua benda peninggalan orang yang telah meninggal. Membungkusnya bersama dengan potongan kecil undrat ao, lalu dibawa ke makam.

Jika dalam satu siklus berladang tidak ada yang meninggal, prosesi tersebut tidak dilakukan.

Sambil tamu menikmati undratnya, tari-tarian kembali disuguhkan. Kali ini tarian agak berbeda, dinamakan udoq kitaq dan udoq kiba dengan tujuan mengusir segala penyakit, hama, dan juga roh jahat.

Segerombolan perempuan berkebaya menari sambil menggunakan topeng unik. Topeng pertama menyerupai wajah manusia berwarna putih, sedangkan topeng kedua berbentuk balok dan terbuat dari kayu.

Uniknya, topeng tersebut memiliki hiasan manik-manik dengan motif khas Dayak. Yang memakainya tak melihat apa-apa karena tak ada lubang untuk mengintip. Tujuannya agar mereka tidak melihat hantu atau roh jahat yang mereka usir.

Tak mau ketinggalan, Kepala Adat juga menunjukkan keahlian menarinya. Ia menari tarian perang khas laki-laki, lengkap dengan perisai, mandau, juga menggunakan baju kebesaran. Tarian itu disusul oleh tarian perempuan yang lebih gemulai dalam menggerakan tubuhnya. (sil)

Sumber: CNN Indonesia