Showing posts with label Karsa Institute. Show all posts
Showing posts with label Karsa Institute. Show all posts

Thursday, September 13, 2018

Karsa Institute Gelar Festival Peduli Day di Daerah Terpencil

http://www.ngatasulteng.com
SULTENG RAYA – Karsa Institute menggelar program peduli Festival Peduli Day dan Perayaan Hari Besar Nasional (PHBN) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Republik Indonesia (RI) ke 73 Tahun 2018 didaerah terpencil tepatnya di Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng, Senin (10/9/2018). Baca selengkapnya

Berita terkait:



 

Monday, September 10, 2018

O[B]JEK


Film karya sineas-sineas kampung di Pipikoro, yang mengisahkan perdebaatan warga sepeda motor yang pertama kali masuk ke Desa Mapahi di Sulteng. Mereka berdebat apakah motor itu Ojek atau Objek.

Film ini merupakan hasil workshop film yang dilaksanakan oleh Karsa Institute bekerjasama dengan Tumbuh Sinema Rakyat yang didukung oleh Program Peduli-Kemitraan. Film ini diputar pertama kali pada saat Pageleran Film Kampung Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Sulteng.

Saturday, September 8, 2018

Mo'Eli


Film karya sineas-sineas kampung di Pipikoro, yang berkisah tentang seorang anak muda yang jumawa memamerkan handphone nya di Kampung Kantewu II, Kabupaten Sigi dengan pura-pura menerima telpon, padahal di kampung tersebut tidak ada signal.

Film pendek ini merupakan hasil dari workshop film yang diadakan oleh Kemitraan bekerjasama dengan Karsa Institute dan Tumbuh Sinema Rakyat dan diputar pada Pagelaran film kampung saat Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng.

Sunday, October 8, 2017

Jas Merah dari Peana


Desa Peana dari atas (photo drone)

Oleh Edo Yulanda

Kata beranak sudah tidak asing dari pendengaran kita dan sering diabaikan, akan tetapi setelah saya menginjakkan kaki dan menghirup udara segar di sebuah desa dengan ketinggian 800-1200 MDPL maka kata 'beranak" teringat kembali yang menurut masyarakat setempat diartikan  "Peana". Konon ceritanya ada seorang Topo ahu (pemburu) yang sedang berburu dan sampai ditempat yang tinggi ia melihat adanya sebuah lembah datar yang sangat indah, dan mendirikan pemukiman serta bercocok tanam ditempat tersebut. Setelah itu Topo ahu kembali kerumah tempat asalnya serta menceritakan kepada keluarganya akan temuan yang didapat saat berburu. Selang beberapa waktu keluarga topo aru memutuskan untuk hijrah dan mendirikan pemukiman di lembah tersebut. Pada saat perjalanan menuju lembah, rombongan mendengar suara perempuan yang sedang menangis dan ternyata suara itu datang dari pinggiran sungai yang tak lain adalah seorang perempuan yang sedang melahirkan. Sehingga sungai tersebut diberi nama "po peana" yang berarti tempat melahirkan dipinggir sungai dan sejak saat itu sungai yang terletak di lembah itu sendiri dinamakan sungai "Peana" dan sekarang telah menjadi sebuah desa yang dinamakan Desa Peana.

Menurut masyarakat Pipikoro, Masyarakat Peana bertutur dengan bahasa "Uma" dikalangan masyarakat Topo Uma penduduk Peana dan Keturunannya, yang dikelompokkan sebagai topo uli yang dikenal sebagai dialek yang lebih halus.

Dalam sejarahnya sebelum masukya pemerintah Hindia Belanda, Peana merupakan pusat kerajaan Pipikoro. Masuknya Hindia Belanda tahun 1917 merubah kedudukan Pipikoro sebagai kerajaan otonom menjadi Sub-ordinasi dari kerajaan Kulawi dibawah kepemimpinan  Madika Malolo (Raja Muda) yang membawahi 17 (Tujuh Belas) Kampung yang ada di Pipikoro. Kepemimpinan Madika Malolo  berakhir pada tahun 1949 Sehubungan dengan berlakunya sistem Distrik yang dipimpin oleh seorang Kepala Distrik dan berubah menjadi Kecamatan.Tahun 1952 Masyarakat Pipikoro sudah mulai menanam  Seperti  Kakao, Kopi dan cengkeh. Tahun 1971 masyarakat Pipikoro mulai bersentuhan dengan pedagang keliling,  pertama kalinya mengenal pengobatan modern dan  kunjungan dokter ke Peana, serta Bantuan Pemerintah dalam Program Bantuan Desa (Bandes). Tahun 2002 , Pipikoro resmi menjadi Kecamatan dan Peana ditetapkan menjadi Ibu kota Kecamatan pipikoro serta melalui Swadaya Masyarakat kualitas jalan Peana-Gimpu ditingkatkan agar dapat dilalui kendaraan bermotor yang hasilnya masih dirasakan hingga sekarang ini (tahun 2017) sebagai jalan umum untuk akses bagi masyarakat.

Tuesday, September 26, 2017

Suara Rica dari Porolea

ilustrasi

Oleh:Dewi Yunita Widiarti

Tuk..tuk.., tuk..tuk,...tuk...tuk
Dalam senyap bunyi berirama itu terdengar,
Makin lama semakin terdengar jelas,
Otak sekilat bekerja, memberi jawab atas sumber suara
“lesung padi”...lintasan pikiran itu berkelebat
Sementara otak yang lain tidak juga membenarkan..
Dingin semakin menjalar ke ujung kaki,
Signal di kepala memerintahkan tangan untuk menarik kembali selimut
Merapatkannya hingga menutupi wajah
Sumber bunyi akan kutanya besok...
Dan akhirnya mata makin merapat, menjemput mimpi yang tadi terpenggal


Hampir sebagian rumah warga punya bentuk yang sama dengan rumah milik Agus, Kepala BPD Desa Porelea, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.  Hanya pondasi, lantai ruang bawah dan sedikit bata di bagian bawah bangunan; selebihnya kayu papan dua lantai beratap seng yang mulai mengkarat.


Terdapat dua anak tangga kayu untuk naik pada lantai dua bangunan tersebut. Satu terletak di sisi depan kanan rumah, sedang satu lainnya terletak di sisi kiri belakang yang langsung menghubungkan dengan pintu belakang dapur .


Terdapat tiga kamar di lantai dua rumah. Ukuran kamar tidak lebih dari 3 x 3 meter. Salah satunya kami gunakan untuk tidur semalam. Tentu saja berukuran lebih besar dari dua kamar yang lain. Dipan kayu sederhana terdapat di setiap kamar, kasur kapuk tipis berseprai kusam tampak menutup permukaan kasur. Ada bantal tanpa guling dan satu selimut tebal berbulu yang menghalau dingin tadi malam.


**


Kami tiba di Desa ini sudah senja. Setelah bersalaman dengan tuan rumah Agus dan istrinya, kami dipersilahkan untuk menempati lantai dua. Tidak ada yang berencana untuk mandi membersihkan  diri setibanya di sana, semua semakin rapat mengancing sweeter dan jaketnya; sementara aku pun sibuk mencari kaos kaki untuk menutup jari yang pertama memberi rasa dingin.


Porelea..

Bersepuluh kami di tempatkan di desa ini. Kedatangan kami sepertinya sudah diketahui pemerintah desa jauh-jauh hari. Karel, Kepala Desa Porelea langsung mengarahkan kami ke rumah Agus yang ternyata merupakan kakak kandungnya. Agus memiliki satu kamar mandi yang terletak di lantai satu berdampingan dengan dapur, ku pikir salah satu alasannya pasti karena fasilitas tersebut panitia menempatkan kami di sini. Sementara sebagian besar warga desa yang lain, masih memanfaatkan pancuran umum untuk membersihkan diri, mencuci dan sebagainya.


Malam itu kami ngobrol santai dengan Agus sang pemilik rumah dan Karel. Kesempatan tersebut juga kami gunakan untuk menatap lekat anggota tim yang sebelumnya tidak semua saling mengenal. Malam di tutup dengan acara makan dan obrolan ringan yang kerap mengocok perut mengumbar tawa dari teman-teman Karsa, lembaga yang menjadi tuan rumah dalam kegiatan Cross Learning tersebut.


Suasana menjadi lebih terasa hangat, meski semilir angin malam bebas menembus pintu dan jendela yang tak berkaca. Gorden yang  tergantung di pintu dan jendela tidak berfungsi maksimal, hembusan angin kerap menyibak kain gorden. Salah satu kawan justru berinisiatif mengikat kain tersebut agar tidak kerap melambai. Alhasil malam terasa makin sejuk, sementara di luar langit cerah dengan taburan bintang selepas hujan gerimis  mengguyur perjalanan panjang kami menuju Porelea.


**

Tuk...tuk...tuk....tuk..., bunyi yang sama kembali terdengar.

Bergegas ku turuni anak tangga belakang sambil setengah berlari, sandalpun belum terjepit sempurna di kaki kiri. Dapur rumah Agus cukup luas untuk ukuran rumah di kampung. Ada perapian kayu di ujung ruangan, sementara tidak jauh dari itu kompor gas dengan tabung 10 kg juga ada di sana.


Satu meja kayu panjang, terletak di tengah ruangan. Bu Agus meletakan gelas, cerek  minum berbahan almunium, toples kaca berisi kerupuk, keranjang berisi cabai dan bawang juga diletakan di atas meja.


Sementara di sisi sudut dapur yang lain, ada rak piring penuh dengan pekakas. Ada lemari kayu yang juga penuh dengan tumpukan piring kaleng, blender tua dan baskom ukuran besar yang kurang tertata di atasnya.


Mataku langsung tertuju pada sumber bunyi...

Tuk...tuk...tuk...tuk.....ku lihat Agus sedang memegang sepotong batang bambu dengan sebilah kayu bulat berukuran lebih kecil yang di masukan berulang-ulang ke dalam tabung bambu tersebut. Tangan kiri dipergunakan untuk memegang tabung bambu, sedang tangan kanan memegang erat kayu bulat kecil yang berukuran lebih panjang di bandingkan tabung bambunya.


Gerakannya berulang, seperti sedang menumbuk sesuatu.

Tuk...tuk...tuk..., ternyata benda itulah yang menjadi sumber bunyi. Agus sedang menumbuk cabai dan bawang untuk masak. Alat itu berfungsi layaknya gilingan batu yang ku punya di rumah. Sementara Bu Agus sedang duduk disebelahnya sambil memilah daun sawi antara yang berwarna hijau dengan sebagian yang mulai menguning.


Owh.... alat itulah yang berbunyi sejak subuh tadi. Bukan lesung padi...

Tapi bilah bambu sepanjang 40 cm yang berfungsi untuk menumbuk dan menghaluskan bumbu dapur.


Perhatianku tidak lagi ke alat tumbuk tersebut, tapi justru pada Agus. Sejak semalam Agus tampak sigap membantu istrinya mulai dari mengeluarkan kopi, membawa makanan dan berulang kali turun naik ke lantai dua untuk membawa piring-piring berisi makanan yang kami santap semalam.


Pemandangan pagi ini justru lebih mengherankan.

Agus menumbuk cabai, bumbu tumis yang akan di pakai istrinya untuk memasak sawi. Rencana ingin ke kamar mandi jadi memaksaku duduk di antara mereka.  Bu Agus bercerita kalau sawi tersebut diberikan oleh keponakannya semalam. Sawi yang di tanam sendiri, bebas pestisida. Wajar kalau tumisan sawi yang kami santap tadi malam, terasa lebih segar dan manis karena ternyata baru di petik dari ladang.


Ujung ekor mataku masih berusaha menangkap gerak dan aktifitas Agus selanjutnya. Laki-laki itu mengangkat baskom plastik ke kamar mandi.  Selang kecil yang tak berhenti mengeluarkan air tampak membasuh sesuatu yang berasal dari dalam baskom.


“Pak Agus memotong ayam kampung tadi, itu sedang di cucinya”, istri Agus memberi penjelasan sebelum pertanyaan aku ajukan.


Wahh, luar biasa ku pikir laki-laki ini. Setelah menumbuk bumbu sekarang ia pun membersihkan potongan ayam.


**

“selamat pagi Ibu,” sapaan itu cukup membuatku terperangah karena disampaikan oleh anak perempuan kecil yang kuperkirakan baru berumur 5 tahun. 

Porelea memang berbeda..


Pagi itu ku putuskan jalan menelusuri jalan setapak rabat beton di dalam desa untuk sekedar mencari keringat. Dan sepanjang itu sudah puluhan orang menyapaku. Tidak hanya orang tua dan ibu muda, anak-anak kecil’pun memberi senyum ramahnya. Satu tradisi yang sangat jarang kita temukan di kota.


Beberapa bangunan rumah warga Porelea cukup menarik. Ada yang berbahan utama kayu papan, ada yang berdinding bambu beranyam, ada yang berdinding bata merah dan banyak rumah yang mengkombinasikan bahan-bahan tersebut. 


Atap rumah juga beragam. Mulai dari atap seng. Atap bambu, ijuk dan yang paling unik menurutku adalah rumah beratap kayu. Seperti halnya Lobo rumah adat mereka yang baru selesai diresmikan. Atap Lobo terbuat dari potongan-potongan kayu tipis, berukuran sama yang di susun rapih menyerupai genting.


Beberapa rumah panggung lama juga masih dihuni dan terawat baik.

Rumah panggung yang umumnya berukuran kecil tersebut, tegak berdiri pada pondasi batu tanpa cor. Tidak kutemukan potongan paku pada kayu bangunan. Rumah-rumah lama itu menggunakan pasak. Kayu satu dengan kayu lainnya saling terhubung layaknya puzzle. “Design  anti gempa!”,ujar Budi staf Karsa menjelaskan.


**

Porelea berpenduduk 984 jiwa atau sekitar 203 KK, 53% nya adalah perempuan. Data itu berstabilo kuning pada profil desa yang Panitia bagikan sebagai bahan informasi dari lokasi kunjungan. Di informasi itu juga tertulis bahwa perempuan porelea memilki peran yang sama pentingnya dalam kegiatan produktif maupun domestik dengan kelompok laki-laki.


Data profil itu mengingatkan kembali pada Agus, induk semang dimana kami menginap.

Berumah tangga cukup lama, keluarga itu belum juga diberikan keturunan. Tapi sikap dan cara Agus memperlakukan istrinya demikian baik. 


Karel juga menceritakan semalam, kalau Porelea menempatkan perempuan pada posisi sangat mulia. “Hampir tidak ada angka perceraian di sini, apalagi istilah kekerasan dalam rumah tangga!. Sangksi adat untuk kekerasan seperti itu cukup berat ”, Karel menegaskan.


“jika perempuan meminta cerai lebih dahulu, maka adat akan mengabulkan. Tapi jika laki-laki yang mengajukan cerai, maka dia harus membayar denda berupa seluruh biaya hidup yang telah dikeluarkan pihak orang tua atas anak perempuannya”, Tamasopia salah satu dewan adat Porelea menjelaskan tentang posisi perempuan dalam hal perceraian.


Porelea juga punya 11 orang yang duduk dalam lembaga adat. Tiga diantaranya adalah perempuan. Kuota 30% untuk perempuan sudah berlangsung sejak lama di desa terpencil ini. Keberadaan perempuan di dewan adat betul-betul di fungsikan, mereka punya hak bersuara dan duduk berdampingan dengan laki-laki ketika Lobo menggelar rapat adat. Contoh nyata yang mengungkap kebenaran cerita itu bisa saya lihat jelas pada Agus dan istrinya.


**

Agus dan istri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga bersama. Mengurus ladang dan mengambil hasil kebunpun kerap bersama-sama. Ketika Bu Agus sedang sibuk di dapur, Agus kerap melayani pembeli yang berkunjung ke warung  kecil milik mereka.


“ini harganya berapa Bu?” Agus setengah berlari ke dapur dan menyodorkan sepasang sandal perempuan barang dagangan warung yang hendak di beli seorang warga.


Setelah mendapatkan informasi harga sandal, Agus kembali bergegas ke depan untuk kembali melayani para pembeli di warungnya. Keduanya tampak rukun dan harmonis. Pada satu malam menuju kamar mandi, tampak pemandangan di mana keduanya sedang duduk nonton televisi bersama di lantai dasar rumahnya.


Pemandangan yang ikut menyejukan hati dan memberi pesan tauladan yang baik untuk pengamat seperti saya.


Porelea ohh.... Porelea,  rumah induk semang tempat kami bermalam’pun memberi pembelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan berumah tangga.


Ketiadaan anak dari hasil perkawinan tidak sedikitpun merubah sikab dan mengurangi cinta kasih diantara keduanya. Semoga Porelea tetap menjaga kebaikan dan keharmonisan diantara Agus dan Istrinya. ***

                                                                                                                                                                       



Thursday, September 21, 2017

Negri di Bahu Awan

Dokumen Kemitraan

Oleh:Dewi Yunita Widiarti



Daun Pohon Tea yang terikat oleh liur makluk udara
Daun berputar ke kiri dan ke kanan
Dalam senyap terdengar suara syair …
Tak satu’pun orang ada disana saat itu
Hanya ada haparan jamur (romoe) di bawah daun…
Bergerak mengirimkan suara indah
Tamadume bercerita, Raigo di mulai dari kisah ini..


Namanya Malapahi, Salem Dumpa bilang butuh kurang lebih tujuh jam untuk membawanya dari hutan sampai ke desa. Diameter Malapahi tidak lebih dari 10 cm, tapi dari 2 batang malapahi yang di dapat, beratnya tidak kurang dari 2 ton. Butuh 20 orang warga untuk menariknya keluar dengan jarak 2 kilo. Malapahi bergerak ringan, ketika raego bersama di senandungkan. Tanda semesta melalui leluhur memberi restu ketika Lobo di rencanakan.

Bangunan itu seluruhnya dari kayu. Ada 20 kayu bulat berdiameter 10 cm yang tegak sebagai tiang penyanggah bangunan adat tersebut. Bukan dari jenis kayu biasa. Ada lari, loboh, entoveruk, kuhiok, madok, lajah. Di bagian tengah bangunan terdapat empat batu besar sebagai dasar bersusunnya pongkoto, potongan kayu bulat yang disusun tujuh lapis sebagai dudukan utama dari Lobo. Rumah adat Pipikoro di Porelea.

Permukaan kayu halus tidak rata, warga memotong dan membentuk kayu hanya menggunakan parang. Pondasi bangunan tidak berpaku. Lobo milik Porelea direkonstruksi dari bentuk Lobo terdahulu. Salem Dumpa bercerita, sebanyak 17 orang panitia pembangunan Lobo menyelesaikan bangunan adat tersebut tidak lebih dari 21 hari. Mulai dari mengambil kayu di hutan, sampai Lobo di resmikan. Pertanda leluhur kembali memberikan restunya.

Ada dua tangga yang berposisi di depan dan belakang Lobo. Tidak juga tepat disebut dengan tangga pada umumnya, karena hanya berupa papan kayu Kumeh yang di pahat berjenjang untuk memudahkan ketika kaki berpijak  ketika menjangkau ruang atas bangunan. Sekeliling ruang nampak lenggang. Terdapat satu tiang raja berposisi tepat di tengah bangunan, jenisnya kayu Betauk. Kepala sapi bertanduk, tergantung tepat di atas tiang. Untuk lantai digunakan jenis kayu susuh, diameternya berukuran lebih besar dari jenis kayu lainnya. Hanya susuh yang di potong dengan chainshaw, karena sangat tidak memungkinkan Lobo selesai cepat jika susuh juga di parang menjadi papan.

Atap Lobo juga berasal dari kayu kumea yang dipotong pipih.  Jumlahnya mencapai 7000 lembar. Setiap lembar terikat pada rengbambu, sedang pertemuan satu kayu dengan potongan kayu lainnya hanya di ikat dengan tali rotan. Rotan di anggap sebagai tali yang paling kuat untuk mengikat. Lobo tidak hanya berfungsi sebagai tempat membicarakan urusan adat. Tapi juga punya fungsi social. Lobo bisa di gunakan untuk bermalam bagi siapapun yang membutuhkan.

Perapian kayu ada di salah satu sisi ruangan. “saat diskusi perapian akan di hidupkan. Api di jaga agar tidak padam. Semua harus berpendapat, jangan kalah dengan api!” Salem Dumpa menjelaskan salah satu filosofi perapian adalah semangat bermusyawarah. Diskusi harus memperoleh hasil, harus ada jalan keluar yang ditemukan. Lobo penuh akan makna, sarat akan pesan. Akal tidak akan bisa menjawab semua tanya dari penggalan-penggalan cerita. Itu karena semesta memberi restunya.

Porelea kami tempuh selama kurang lebih 4 jam untuk jarak sekitar 73 Km dari Kota Palu menggunakan bus. Kendaraan roda empat hanya bisa mengantar hingga Gimpu (Tomua), selanjutnya perjalanan diteruskan dengan kendaraan roda dua. “kurang lebih dua jam untuk tiba di Porealea,” ojek motor menjelaskan. Dua jam itu hanya pergeseran dua garis kecil pada penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Jumlahnya 120 menit.  Tapi untuk pengunjung baru seperti kami yang tidak pernah bertemu dengan rute perjalanan terjal dengan banyak tikungan curam seperti itu, rasanya seperti satu tarikan nafas..tertahan..menimbulkan cemas dan panik. Lega baru terasa ketika roda motor menjejak rabat beton. Hingga mencapai Porelea, sebuah negeri di bahu awan.

Pemukiman yang di bangun diatas punggung pegunungan tersebut menampilkan potret desa yang tertata rapih, punya lingkungan yang bersih dan berpenduduk kurang lebih 984 jiwa. Satu bangunan gereja tegak lebih menonjol dari bangunan rumah lainnya. “9 tahun gereja baru selesai di bangun, menghabiskan dana 1, 5 M swadaya masyarakat. Selesai gereja berdiri, warga baru menata desa dengan fasilitasnya,” Budi salah satu staf Karsa menceritakan sedikit sejerah keberadaan gereja.

Meski jauh di daerah terpencil, pemukiman ini sudah menikmati listrik yang bersumber dari tenaga kincir air. Satu kincir menyalurkan listrik maksimal untuk 10 rumah. Warga yang mengambil sambungan listrik diminta menyetorkan 1 juta diawal pemasangan, sedang setiap bulannya membayar tagihan listrik dengan bentuk tenaga. Satu balon berarti satu hari bekerja untuk si pemilik kincir. Biasanya warga membayar tenaga setiap akhir bulan.

Jalan rabat beton menjadi jalan setapak bagi lalu lintas warga, fasilitas ini terbilang baru. Sebelum fasilitas itu ada, pasca hujan warga sangat enggan keluar rumah karena tanah menjadi sangat becek, licin; motor pun kerap tergelincir dan dipenuhi lumpur. 

Mayoritas masyarakat adat Porelea adalah petani, disamping berladang mereka juga menanam kopi dan kakao sebagai tanaman tahunan utama. Lahan pekarangan disekitar rumah juga termanfaatkan sangat baik. Tidak hanya di tanam bunga pemanis pagar, tapi kantong-kantong polibag dengan tanaman daun bawang, sawi, seledri, labu siam juga tumbuh subur untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga.  Sebagian warga juga beternak. Babi dan ayam menjadi pilihan ternak yang di pelihara.

Porelea di huni para penjaga bumi, Budi menyebutnya demikian untuk kemuliaan prilaku masyarakat Porelea terhadap lingkungan. Adat mengikat laku dan mengatur sendi kehidupan masyarakat dengan sangat baik. Adat ditempatkan pada bagian termulia sebagai ruh yang menggerakan Porelea. Kearifan dan kecintaan masyarakat pada hutan, bumi, tanah dan air  tampak jelas pada upaya masyarakat  memperlakukan alam. Porelea percaya, semesta memberi sebagaimana warga berbuat.  Kebaikan berbalut adat tertangkap ketika Raego dilakukan …

Syair itu bermakna, siapa yang membentuk dan membelah jari-jarimu sehingga engkau bisa menggengam? Siapa yang bisa membuka pelupuk matamu sehingga engkau bisa melihat?
Begitu indah cara  Tuhan berkomunikasi dengan Manusia...

Tidak ada padanan kata yang tepat untuk menjelaskan apa itu Raego. Budaya Raego sebetulnya tidak hanya milik Porelea, desa lain di Pipikoro juga mengenal Raego tapi tidak lagi menerapkannya sebagaimana Porelea masih mempertahankannya. Ada gerak, ada lagu, ada pinta, ada puja, ada sastra, ada doa pada bait-bait Raego.  Raego merupakan bentuk berkomunikasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia dalam konteks menjaga keselarasan.

Raego seperti gambaran daur hidup, melekat pada setiap ritual aktivitas Porelea. Membuka hutan ada Raego nya. Menaman ada raego, membuka ladang ada raego, menebang ada raego, perkawinan ada raego, kelahiran ada Raego, pertemuan ada raego, perpisahan ada raego, begitu pun prosesi kematian ada raegonya.

Raego akan ada pada setiap acara adat Porelea.  Iramanya sama, yang membedakan hanya syair yang di lafazkan saat kumpulan orang bergerak serempak membawakan tarian Raego bermakna penyampai pesan. Raego akan di wariskan pada penjaga bumi selanjutnya, Karel, Kepala Desa Porelea memastikannya melalui rencana kerja desa.

Di Porelea, Lembaga Adat berdamping selaras dengan pemerintah desa. “Kalau pun ada permasalahan, tidak bisa langsung di bawa ke ranah hukum. Prosesnya harus lebih dahulu diselesaikan adat. Lembaga adat di pilih oleh desa. Selain factor keturunan, yang duduk pada lembaga adat haruslah orang yang menguasai adat itu sendiri.  Ada 11 orang terpilih di lembaga adat, 3 diantaranya perempuan,” ujar Karel secara tegas. Sedang musyawarah dan kegotong royongan menjadi penggerak yang semakin menguatkan keberadaan Porelea.   
    
Pagi itu Raego di lakukan...
Syair bermakna perpisahan menjadi penutup kebersamaan kami di Porelea. Syair yang tidak kami mengerti dalam kata, tapi hati kami memahami ada pesan kesedihan disana. Banyak cerita yang akan kami bawa tentang Porelea, pesan kebaikan yang di tinggalkan para leluhur dan terjaga oleh adat. Kami berbisik dalam do’a, semoga semesta selalu memberikan restunya pada Porelea. ****