Showing posts with label Pipikoro. Show all posts
Showing posts with label Pipikoro. Show all posts
Monday, September 17, 2018
Mongkawongo
Film karya sineas-sineas kampung di Pipikoro, yang berkisah tentang seorang anak muda yang salah memahami kemajuan zaman yang dia sebut Zaman Now, dengan bermalas-malasan dan tak mau membantu orang tua.
Nah apa yang terjadi dengan anak muda dari Desa Porolea, Kabupaten Sigi ini? silahkan simak flmnya. Film pendek ini merupakan hasil dari workshop film yang diadakan oleh Kemitraan bekerjasama dengan Karsa Institute dan Tumbuh Sinema Rakyat dan diputar pada Pagelaran film kampung saat Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng.
Sunday, September 16, 2018
Jalan Raya Pipikoro [Film]
![]() |
| klik untuk menonton trailer |
Film ini mengisahkan tentang situasi dan kondisi kehidupan masyarakat adat di Dataran Tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka yang bersahaja sangat mendambakan pembangunan namun kerab dijadikan korban para spekulan.
Film karya Tumbuh Sinema Rakyat bekerjasama Karsa Institute ini disponsori oleh Kemitraan dalam Program Peduli. 100% pemain dalam film ini adalah warga desa desa di Dataran tinggi Pipikoro, dan tes pemutaran perrtama kali dilakukan di acara Peduli Day Program Peduli, 8-10 September di Desa Banasu.
Film ini baru bisa ditonton publik secara luas setelah launching pada bulan Oktober 2018 mendatang.
Monday, September 10, 2018
O[B]JEK
Film karya sineas-sineas kampung di Pipikoro, yang mengisahkan perdebaatan warga sepeda motor yang pertama kali masuk ke Desa Mapahi di Sulteng. Mereka berdebat apakah motor itu Ojek atau Objek.
Film ini merupakan hasil workshop film yang dilaksanakan oleh Karsa Institute bekerjasama dengan Tumbuh Sinema Rakyat yang didukung oleh Program Peduli-Kemitraan. Film ini diputar pertama kali pada saat Pageleran Film Kampung Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Sulteng.
Sunday, September 9, 2018
Kopi & Rasa Desa Pelempea [Film]
Salah satu film karya sineas-sineas muda kampung. Film yang mengisahkan seorang pemuda kota yang datang ke Desa Pelempea, Pipikoro, Kabupaten Sigi dan penasaran pada kopinya yang enak. Film pendek ini merupakan hasil dari workshop film yang diadakan oleh Kemitraan bekerjasama dengan Karsa Institute dan Tumbuh Sinema Rakyat dan diputar pada Pagelaran film kampung saat Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng.
Saturday, September 8, 2018
Mo'Eli
Film karya sineas-sineas kampung di Pipikoro, yang berkisah tentang seorang anak muda yang jumawa memamerkan handphone nya di Kampung Kantewu II, Kabupaten Sigi dengan pura-pura menerima telpon, padahal di kampung tersebut tidak ada signal.
Film pendek ini merupakan hasil dari workshop film yang diadakan oleh Kemitraan bekerjasama dengan Karsa Institute dan Tumbuh Sinema Rakyat dan diputar pada Pagelaran film kampung saat Peduli Day 8-10 September 2018 di Desa Banasu, Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulteng.
Saturday, September 1, 2018
Film Jalan Raya Pipikoro [Trailer]
Berikut ini adalah trailer film yang mengisahkan tentang situasi dan kondisi Dataran Tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Film karya Tumbuh Sinema Rakyat bekerjasama Karsa Institeute ini disponsori oleh Kemitraan untuk Program Peduli. 100% pemain dalam film ini adalah warga desa desa di Dataran tinggi Pipikoro, dan akan diputar pertama kali pada acara Peduli Day Program Peduli, 8-10 September di Desa Banasu. Selengkapnya menonton film ini klik link berikut ini.
Film terkait:
Tuesday, September 26, 2017
Suara Rica dari Porolea
![]() |
| ilustrasi |
Oleh:Dewi Yunita Widiarti
Tuk..tuk.., tuk..tuk,...tuk...tuk
Dalam senyap bunyi berirama itu terdengar,
Makin lama semakin terdengar jelas,
Otak sekilat bekerja, memberi jawab atas sumber suara
“lesung padi”...lintasan pikiran itu berkelebat
Sementara otak yang lain tidak juga membenarkan..
Dingin semakin menjalar ke ujung kaki,
Signal di kepala memerintahkan tangan untuk menarik kembali selimut
Merapatkannya hingga menutupi wajah
Sumber bunyi akan kutanya besok...
Dan akhirnya mata makin merapat, menjemput mimpi yang tadi terpenggal
Hampir sebagian rumah warga punya bentuk yang sama dengan rumah milik Agus, Kepala BPD Desa Porelea, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Hanya pondasi, lantai ruang bawah dan sedikit bata di bagian bawah bangunan; selebihnya kayu papan dua lantai beratap seng yang mulai mengkarat.
Terdapat dua anak tangga kayu untuk naik pada lantai dua bangunan tersebut. Satu terletak di sisi depan kanan rumah, sedang satu lainnya terletak di sisi kiri belakang yang langsung menghubungkan dengan pintu belakang dapur .
Terdapat tiga kamar di lantai dua rumah. Ukuran kamar tidak lebih dari 3 x 3 meter. Salah satunya kami gunakan untuk tidur semalam. Tentu saja berukuran lebih besar dari dua kamar yang lain. Dipan kayu sederhana terdapat di setiap kamar, kasur kapuk tipis berseprai kusam tampak menutup permukaan kasur. Ada bantal tanpa guling dan satu selimut tebal berbulu yang menghalau dingin tadi malam.
**
Kami tiba di Desa ini sudah senja. Setelah bersalaman dengan tuan rumah Agus dan istrinya, kami dipersilahkan untuk menempati lantai dua. Tidak ada yang berencana untuk mandi membersihkan diri setibanya di sana, semua semakin rapat mengancing sweeter dan jaketnya; sementara aku pun sibuk mencari kaos kaki untuk menutup jari yang pertama memberi rasa dingin.
Porelea..
Bersepuluh kami di tempatkan di desa ini. Kedatangan kami sepertinya sudah diketahui pemerintah desa jauh-jauh hari. Karel, Kepala Desa Porelea langsung mengarahkan kami ke rumah Agus yang ternyata merupakan kakak kandungnya. Agus memiliki satu kamar mandi yang terletak di lantai satu berdampingan dengan dapur, ku pikir salah satu alasannya pasti karena fasilitas tersebut panitia menempatkan kami di sini. Sementara sebagian besar warga desa yang lain, masih memanfaatkan pancuran umum untuk membersihkan diri, mencuci dan sebagainya.
Malam itu kami ngobrol santai dengan Agus sang pemilik rumah dan Karel. Kesempatan tersebut juga kami gunakan untuk menatap lekat anggota tim yang sebelumnya tidak semua saling mengenal. Malam di tutup dengan acara makan dan obrolan ringan yang kerap mengocok perut mengumbar tawa dari teman-teman Karsa, lembaga yang menjadi tuan rumah dalam kegiatan Cross Learning tersebut.
Suasana menjadi lebih terasa hangat, meski semilir angin malam bebas menembus pintu dan jendela yang tak berkaca. Gorden yang tergantung di pintu dan jendela tidak berfungsi maksimal, hembusan angin kerap menyibak kain gorden. Salah satu kawan justru berinisiatif mengikat kain tersebut agar tidak kerap melambai. Alhasil malam terasa makin sejuk, sementara di luar langit cerah dengan taburan bintang selepas hujan gerimis mengguyur perjalanan panjang kami menuju Porelea.
**
Tuk...tuk...tuk....tuk..., bunyi yang sama kembali terdengar.
Bergegas ku turuni anak tangga belakang sambil setengah berlari, sandalpun belum terjepit sempurna di kaki kiri. Dapur rumah Agus cukup luas untuk ukuran rumah di kampung. Ada perapian kayu di ujung ruangan, sementara tidak jauh dari itu kompor gas dengan tabung 10 kg juga ada di sana.
Satu meja kayu panjang, terletak di tengah ruangan. Bu Agus meletakan gelas, cerek minum berbahan almunium, toples kaca berisi kerupuk, keranjang berisi cabai dan bawang juga diletakan di atas meja.
Sementara di sisi sudut dapur yang lain, ada rak piring penuh dengan pekakas. Ada lemari kayu yang juga penuh dengan tumpukan piring kaleng, blender tua dan baskom ukuran besar yang kurang tertata di atasnya.
Mataku langsung tertuju pada sumber bunyi...
Tuk...tuk...tuk...tuk.....ku lihat Agus sedang memegang sepotong batang bambu dengan sebilah kayu bulat berukuran lebih kecil yang di masukan berulang-ulang ke dalam tabung bambu tersebut. Tangan kiri dipergunakan untuk memegang tabung bambu, sedang tangan kanan memegang erat kayu bulat kecil yang berukuran lebih panjang di bandingkan tabung bambunya.
Gerakannya berulang, seperti sedang menumbuk sesuatu.
Tuk...tuk...tuk..., ternyata benda itulah yang menjadi sumber bunyi. Agus sedang menumbuk cabai dan bawang untuk masak. Alat itu berfungsi layaknya gilingan batu yang ku punya di rumah. Sementara Bu Agus sedang duduk disebelahnya sambil memilah daun sawi antara yang berwarna hijau dengan sebagian yang mulai menguning.
Owh.... alat itulah yang berbunyi sejak subuh tadi. Bukan lesung padi...
Tapi bilah bambu sepanjang 40 cm yang berfungsi untuk menumbuk dan menghaluskan bumbu dapur.
Perhatianku tidak lagi ke alat tumbuk tersebut, tapi justru pada Agus. Sejak semalam Agus tampak sigap membantu istrinya mulai dari mengeluarkan kopi, membawa makanan dan berulang kali turun naik ke lantai dua untuk membawa piring-piring berisi makanan yang kami santap semalam.
Pemandangan pagi ini justru lebih mengherankan.
Agus menumbuk cabai, bumbu tumis yang akan di pakai istrinya untuk memasak sawi. Rencana ingin ke kamar mandi jadi memaksaku duduk di antara mereka. Bu Agus bercerita kalau sawi tersebut diberikan oleh keponakannya semalam. Sawi yang di tanam sendiri, bebas pestisida. Wajar kalau tumisan sawi yang kami santap tadi malam, terasa lebih segar dan manis karena ternyata baru di petik dari ladang.
Ujung ekor mataku masih berusaha menangkap gerak dan aktifitas Agus selanjutnya. Laki-laki itu mengangkat baskom plastik ke kamar mandi. Selang kecil yang tak berhenti mengeluarkan air tampak membasuh sesuatu yang berasal dari dalam baskom.
“Pak Agus memotong ayam kampung tadi, itu sedang di cucinya”, istri Agus memberi penjelasan sebelum pertanyaan aku ajukan.
Wahh, luar biasa ku pikir laki-laki ini. Setelah menumbuk bumbu sekarang ia pun membersihkan potongan ayam.
**
“selamat pagi Ibu,” sapaan itu cukup membuatku terperangah karena disampaikan oleh anak perempuan kecil yang kuperkirakan baru berumur 5 tahun.
Porelea memang berbeda..
Pagi itu ku putuskan jalan menelusuri jalan setapak rabat beton di dalam desa untuk sekedar mencari keringat. Dan sepanjang itu sudah puluhan orang menyapaku. Tidak hanya orang tua dan ibu muda, anak-anak kecil’pun memberi senyum ramahnya. Satu tradisi yang sangat jarang kita temukan di kota.
Beberapa bangunan rumah warga Porelea cukup menarik. Ada yang berbahan utama kayu papan, ada yang berdinding bambu beranyam, ada yang berdinding bata merah dan banyak rumah yang mengkombinasikan bahan-bahan tersebut.
Atap rumah juga beragam. Mulai dari atap seng. Atap bambu, ijuk dan yang paling unik menurutku adalah rumah beratap kayu. Seperti halnya Lobo rumah adat mereka yang baru selesai diresmikan. Atap Lobo terbuat dari potongan-potongan kayu tipis, berukuran sama yang di susun rapih menyerupai genting.
Beberapa rumah panggung lama juga masih dihuni dan terawat baik.
Rumah panggung yang umumnya berukuran kecil tersebut, tegak berdiri pada pondasi batu tanpa cor. Tidak kutemukan potongan paku pada kayu bangunan. Rumah-rumah lama itu menggunakan pasak. Kayu satu dengan kayu lainnya saling terhubung layaknya puzzle. “Design anti gempa!”,ujar Budi staf Karsa menjelaskan.
**
Porelea berpenduduk 984 jiwa atau sekitar 203 KK, 53% nya adalah perempuan. Data itu berstabilo kuning pada profil desa yang Panitia bagikan sebagai bahan informasi dari lokasi kunjungan. Di informasi itu juga tertulis bahwa perempuan porelea memilki peran yang sama pentingnya dalam kegiatan produktif maupun domestik dengan kelompok laki-laki.
Data profil itu mengingatkan kembali pada Agus, induk semang dimana kami menginap.
Berumah tangga cukup lama, keluarga itu belum juga diberikan keturunan. Tapi sikap dan cara Agus memperlakukan istrinya demikian baik.
Karel juga menceritakan semalam, kalau Porelea menempatkan perempuan pada posisi sangat mulia. “Hampir tidak ada angka perceraian di sini, apalagi istilah kekerasan dalam rumah tangga!. Sangksi adat untuk kekerasan seperti itu cukup berat ”, Karel menegaskan.
“jika perempuan meminta cerai lebih dahulu, maka adat akan mengabulkan. Tapi jika laki-laki yang mengajukan cerai, maka dia harus membayar denda berupa seluruh biaya hidup yang telah dikeluarkan pihak orang tua atas anak perempuannya”, Tamasopia salah satu dewan adat Porelea menjelaskan tentang posisi perempuan dalam hal perceraian.
Porelea juga punya 11 orang yang duduk dalam lembaga adat. Tiga diantaranya adalah perempuan. Kuota 30% untuk perempuan sudah berlangsung sejak lama di desa terpencil ini. Keberadaan perempuan di dewan adat betul-betul di fungsikan, mereka punya hak bersuara dan duduk berdampingan dengan laki-laki ketika Lobo menggelar rapat adat. Contoh nyata yang mengungkap kebenaran cerita itu bisa saya lihat jelas pada Agus dan istrinya.
**
Agus dan istri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga bersama. Mengurus ladang dan mengambil hasil kebunpun kerap bersama-sama. Ketika Bu Agus sedang sibuk di dapur, Agus kerap melayani pembeli yang berkunjung ke warung kecil milik mereka.
“ini harganya berapa Bu?” Agus setengah berlari ke dapur dan menyodorkan sepasang sandal perempuan barang dagangan warung yang hendak di beli seorang warga.
Setelah mendapatkan informasi harga sandal, Agus kembali bergegas ke depan untuk kembali melayani para pembeli di warungnya. Keduanya tampak rukun dan harmonis. Pada satu malam menuju kamar mandi, tampak pemandangan di mana keduanya sedang duduk nonton televisi bersama di lantai dasar rumahnya.
Pemandangan yang ikut menyejukan hati dan memberi pesan tauladan yang baik untuk pengamat seperti saya.
Porelea ohh.... Porelea, rumah induk semang tempat kami bermalam’pun memberi pembelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan berumah tangga.
Ketiadaan anak dari hasil perkawinan tidak sedikitpun merubah sikab dan mengurangi cinta kasih diantara keduanya. Semoga Porelea tetap menjaga kebaikan dan keharmonisan diantara Agus dan Istrinya. ***
Thursday, September 21, 2017
Negri di Bahu Awan
![]() |
| Dokumen Kemitraan |
Oleh:Dewi Yunita Widiarti
Daun Pohon Tea yang terikat oleh liur makluk udara
Daun berputar ke kiri dan ke kanan
Dalam senyap terdengar suara syair …
Tak satu’pun orang ada disana saat itu
Hanya ada haparan jamur (romoe) di bawah daun…
Bergerak mengirimkan suara indah
Tamadume bercerita, Raigo di mulai dari kisah ini..
Namanya Malapahi, Salem Dumpa bilang butuh kurang lebih tujuh jam untuk membawanya dari hutan sampai ke desa. Diameter Malapahi tidak lebih dari 10 cm, tapi dari 2 batang malapahi yang di dapat, beratnya tidak kurang dari 2 ton. Butuh 20 orang warga untuk menariknya keluar dengan jarak 2 kilo. Malapahi bergerak ringan, ketika raego bersama di senandungkan. Tanda semesta melalui leluhur memberi restu ketika Lobo di rencanakan.
Bangunan itu seluruhnya dari kayu. Ada 20 kayu bulat berdiameter 10 cm yang tegak sebagai tiang penyanggah bangunan adat tersebut. Bukan dari jenis kayu biasa. Ada lari, loboh, entoveruk, kuhiok, madok, lajah. Di bagian tengah bangunan terdapat empat batu besar sebagai dasar bersusunnya pongkoto, potongan kayu bulat yang disusun tujuh lapis sebagai dudukan utama dari Lobo. Rumah adat Pipikoro di Porelea.
Permukaan kayu halus tidak rata, warga memotong dan membentuk kayu hanya menggunakan parang. Pondasi bangunan tidak berpaku. Lobo milik Porelea direkonstruksi dari bentuk Lobo terdahulu. Salem Dumpa bercerita, sebanyak 17 orang panitia pembangunan Lobo menyelesaikan bangunan adat tersebut tidak lebih dari 21 hari. Mulai dari mengambil kayu di hutan, sampai Lobo di resmikan. Pertanda leluhur kembali memberikan restunya.
Ada dua tangga yang berposisi di depan dan belakang Lobo. Tidak juga tepat disebut dengan tangga pada umumnya, karena hanya berupa papan kayu Kumeh yang di pahat berjenjang untuk memudahkan ketika kaki berpijak ketika menjangkau ruang atas bangunan. Sekeliling ruang nampak lenggang. Terdapat satu tiang raja berposisi tepat di tengah bangunan, jenisnya kayu Betauk. Kepala sapi bertanduk, tergantung tepat di atas tiang. Untuk lantai digunakan jenis kayu susuh, diameternya berukuran lebih besar dari jenis kayu lainnya. Hanya susuh yang di potong dengan chainshaw, karena sangat tidak memungkinkan Lobo selesai cepat jika susuh juga di parang menjadi papan.
Atap Lobo juga berasal dari kayu kumea yang dipotong pipih. Jumlahnya mencapai 7000 lembar. Setiap lembar terikat pada rengbambu, sedang pertemuan satu kayu dengan potongan kayu lainnya hanya di ikat dengan tali rotan. Rotan di anggap sebagai tali yang paling kuat untuk mengikat. Lobo tidak hanya berfungsi sebagai tempat membicarakan urusan adat. Tapi juga punya fungsi social. Lobo bisa di gunakan untuk bermalam bagi siapapun yang membutuhkan.
Perapian kayu ada di salah satu sisi ruangan. “saat diskusi perapian akan di hidupkan. Api di jaga agar tidak padam. Semua harus berpendapat, jangan kalah dengan api!” Salem Dumpa menjelaskan salah satu filosofi perapian adalah semangat bermusyawarah. Diskusi harus memperoleh hasil, harus ada jalan keluar yang ditemukan. Lobo penuh akan makna, sarat akan pesan. Akal tidak akan bisa menjawab semua tanya dari penggalan-penggalan cerita. Itu karena semesta memberi restunya.
Porelea kami tempuh selama kurang lebih 4 jam untuk jarak sekitar 73 Km dari Kota Palu menggunakan bus. Kendaraan roda empat hanya bisa mengantar hingga Gimpu (Tomua), selanjutnya perjalanan diteruskan dengan kendaraan roda dua. “kurang lebih dua jam untuk tiba di Porealea,” ojek motor menjelaskan. Dua jam itu hanya pergeseran dua garis kecil pada penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Jumlahnya 120 menit. Tapi untuk pengunjung baru seperti kami yang tidak pernah bertemu dengan rute perjalanan terjal dengan banyak tikungan curam seperti itu, rasanya seperti satu tarikan nafas..tertahan..menimbulkan cemas dan panik. Lega baru terasa ketika roda motor menjejak rabat beton. Hingga mencapai Porelea, sebuah negeri di bahu awan.
Pemukiman yang di bangun diatas punggung pegunungan tersebut menampilkan potret desa yang tertata rapih, punya lingkungan yang bersih dan berpenduduk kurang lebih 984 jiwa. Satu bangunan gereja tegak lebih menonjol dari bangunan rumah lainnya. “9 tahun gereja baru selesai di bangun, menghabiskan dana 1, 5 M swadaya masyarakat. Selesai gereja berdiri, warga baru menata desa dengan fasilitasnya,” Budi salah satu staf Karsa menceritakan sedikit sejerah keberadaan gereja.
Meski jauh di daerah terpencil, pemukiman ini sudah menikmati listrik yang bersumber dari tenaga kincir air. Satu kincir menyalurkan listrik maksimal untuk 10 rumah. Warga yang mengambil sambungan listrik diminta menyetorkan 1 juta diawal pemasangan, sedang setiap bulannya membayar tagihan listrik dengan bentuk tenaga. Satu balon berarti satu hari bekerja untuk si pemilik kincir. Biasanya warga membayar tenaga setiap akhir bulan.
Jalan rabat beton menjadi jalan setapak bagi lalu lintas warga, fasilitas ini terbilang baru. Sebelum fasilitas itu ada, pasca hujan warga sangat enggan keluar rumah karena tanah menjadi sangat becek, licin; motor pun kerap tergelincir dan dipenuhi lumpur.
Mayoritas masyarakat adat Porelea adalah petani, disamping berladang mereka juga menanam kopi dan kakao sebagai tanaman tahunan utama. Lahan pekarangan disekitar rumah juga termanfaatkan sangat baik. Tidak hanya di tanam bunga pemanis pagar, tapi kantong-kantong polibag dengan tanaman daun bawang, sawi, seledri, labu siam juga tumbuh subur untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga. Sebagian warga juga beternak. Babi dan ayam menjadi pilihan ternak yang di pelihara.
Porelea di huni para penjaga bumi, Budi menyebutnya demikian untuk kemuliaan prilaku masyarakat Porelea terhadap lingkungan. Adat mengikat laku dan mengatur sendi kehidupan masyarakat dengan sangat baik. Adat ditempatkan pada bagian termulia sebagai ruh yang menggerakan Porelea. Kearifan dan kecintaan masyarakat pada hutan, bumi, tanah dan air tampak jelas pada upaya masyarakat memperlakukan alam. Porelea percaya, semesta memberi sebagaimana warga berbuat. Kebaikan berbalut adat tertangkap ketika Raego dilakukan …
Syair itu bermakna, siapa yang membentuk dan membelah jari-jarimu sehingga engkau bisa menggengam? Siapa yang bisa membuka pelupuk matamu sehingga engkau bisa melihat?
Begitu indah cara Tuhan berkomunikasi dengan Manusia...
Tidak ada padanan kata yang tepat untuk menjelaskan apa itu Raego. Budaya Raego sebetulnya tidak hanya milik Porelea, desa lain di Pipikoro juga mengenal Raego tapi tidak lagi menerapkannya sebagaimana Porelea masih mempertahankannya. Ada gerak, ada lagu, ada pinta, ada puja, ada sastra, ada doa pada bait-bait Raego. Raego merupakan bentuk berkomunikasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia dalam konteks menjaga keselarasan.
Raego seperti gambaran daur hidup, melekat pada setiap ritual aktivitas Porelea. Membuka hutan ada Raego nya. Menaman ada raego, membuka ladang ada raego, menebang ada raego, perkawinan ada raego, kelahiran ada Raego, pertemuan ada raego, perpisahan ada raego, begitu pun prosesi kematian ada raegonya.
Raego akan ada pada setiap acara adat Porelea. Iramanya sama, yang membedakan hanya syair yang di lafazkan saat kumpulan orang bergerak serempak membawakan tarian Raego bermakna penyampai pesan. Raego akan di wariskan pada penjaga bumi selanjutnya, Karel, Kepala Desa Porelea memastikannya melalui rencana kerja desa.
Di Porelea, Lembaga Adat berdamping selaras dengan pemerintah desa. “Kalau pun ada permasalahan, tidak bisa langsung di bawa ke ranah hukum. Prosesnya harus lebih dahulu diselesaikan adat. Lembaga adat di pilih oleh desa. Selain factor keturunan, yang duduk pada lembaga adat haruslah orang yang menguasai adat itu sendiri. Ada 11 orang terpilih di lembaga adat, 3 diantaranya perempuan,” ujar Karel secara tegas. Sedang musyawarah dan kegotong royongan menjadi penggerak yang semakin menguatkan keberadaan Porelea.
Pagi itu Raego di lakukan...
Syair bermakna perpisahan menjadi penutup kebersamaan kami di Porelea. Syair yang tidak kami mengerti dalam kata, tapi hati kami memahami ada pesan kesedihan disana. Banyak cerita yang akan kami bawa tentang Porelea, pesan kebaikan yang di tinggalkan para leluhur dan terjaga oleh adat. Kami berbisik dalam do’a, semoga semesta selalu memberikan restunya pada Porelea. ****
Tuesday, September 19, 2017
Pipikoro, Dataran Tinggi yang Damai
![]() |
| Sumber Photo FB Jimmy OL Methusala |
*Sebuah Perenungan dari Proses Cross Learning Program Peduli
Oleh: Jimmy OL Methusala
Pada punggungan, cerukan, dan ngarai pegunungan Tokalekaju pada jantung Sulawesi aku menemukan kebanggaan pada raut wajah kalian.
To Po Uma, itulah mereka manusia-manusia tangguh dari pipikoro...
Berbicara hutan dengan mereka,adalah berbicara jiwa yang terluka. Sejak jaman Belanda mereka berjuang tentang ruang hidup. Belanda melakukan kebijakan Asas domein verklaring termuat dalam pasal 1 Agrarische Besluit sebagai ketentuan pelaksanaan Agrarische Wet.
Kebijakan kolonial seperti Agrarische Wet 1870, Bosch Ordonantie voor Java en Madoera 1865, dan Bosch Ordonantie 1927 menjadi legitimasi pemerintah Hindia Belanda untuk menetapkan kawasan hutan. Sekaligus menjadikan pengertian agraria sebagai pengertian yang terpisah antara kawasan dalam dan luar hutan.
Praktek kebijakan yang memisahkan konsep agraria ini kemudian menjadi warisan rezim penguasa selanjutnya. Meski setelah kemerdekaan Indonesia memberlakukan Undang-undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, namun pengaturan kehutanan diatur tersendiri.
Ketika pemerintah Orde Baru berkuasa, diterapkanlah Undang-undang Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967 yang merupakan karpet merah untuk mengeksploitasi hutan. Mereka mengeluarkan ijin-ijin seperti HPH, HPHH, dan HTI bagi perusahaan untuk mengeksploitasi hutan.
Sejarah Pipikoro mencatatkan banyaknya peristiwa-peristiwa pemindahan penduduk, pengusiran, pembatasan akses, dan kriminalisasi terkait dengan pengaturan kawasan hutan, yang dilakukan di masa pemerintahan kolonial, hingga rezim pemerintahan Republik Indonesia.proyek Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT) yang digelar Dinas Sosial di alami juga oleh mereka. Sebagian masyarakatnya mengalami Stigma dengan penyebutan "Totole" atau orang liar,orang hutan,orang tidak berpendidikan.
Upaya-upaya tersruktur ini menjadi bagian dari upaya Negara untuk mengukuhkan kekuasaannya atas sumberdaya hutan.
Kekinian mereka telah membuktikan konsep pengelolaan ruang secara tradisional ternyata mampu menjaga kelestarian hutannya. Mereka adalah warga negara yang tetap membayar pajak walaupun infrastruktur jalan sangat memprihatinkan.Mereka terbentuk dari kerasnya alam. Survive dalam kelentingan yang luar biasa. Setia seperti aliran sungai Lairiang.
Siang itu kami berpamitan dalam ucapan singkat untuk melepas kepergian... "Hanya ini yang bisa kami berikan untuk menerima kedatangan kalian...Keadaan kami yang apa adanya.
Jika ada kata dan tindakan kami di kampung ini,yang salah tolong maafkan kami"... Banyak kata yang memang tidak bisa terucap.. Tapi itulah gambaran Kesederhanaan.
Atas nama Karsa Institute Sulteng kami juga meminta maaf ke kawan-kawan peserta Cross Learning jika ada tindakan kami yang di sengaja maupun tidak, dan menyinggung hati kawan-kawan... Kami memohon maaf. Dan semoga kita semua bisa belajar sesuatu dari kegiatan ini.
Monday, June 13, 2016
Cara Organik Mengembalikan Kopi Pipikoro
![]() |
| Sumber Photo dan text: Media Indonesia |
Wednesday, May 25, 2016
Kemendes Buka Pameran Potensi Desa di Sigi
![]() |
| Marwan Jafar saat membuka Pameran Potensi Desa se Provinsi Sulteng. Photo Karsa Institute |
SIGI-Potensi desa adalah sebuah harapan untuk kemandirian desa kita, hari ini adalah hari bersejarah bagi desa Pardende, karena desa Pardende menjadi tuan rumah pameran potensi desa yang pertama kali diselenggarakan di tahun 2016.
Demikian diungkapkan Menteri Marwan Jafar ketika memberikan sambutan sekaligus membuka Pameran Potensi Desa Desa se Provinsi Sulawesi Tengah, di Kabupaten Sigi, Sabtu (21/5) kemarin.
Marwan juga menegaskan bahwa pameran Potensi Desa Se-Provinsi Sulawesi Tengah ini, harus bisa mendorong percepatan pembangunan desa, pencapaian kemandirian, pendapatan desa dan daya saing desa.
Sementara itu Stand Pipikoro yang menampilkan produk unggulan Kopi Toratima-nya mendapat banyak apresasi dalam Pameran tersebut. Pameran dilaksanakan selama dua hari penuh di desa Pardende, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi dimulai dari tanggal 20 hingga 21 Mei 2016.
Selain kopi dan warung Kopi Toratima, stand Pipikoro juga menampilkan produk-produk pertanian (beras ladang organik), kerajinan tangan berupa anyaman rotan dan pandan hutan, serta miniatur PLTMH.
Usai memberi kata sambutan, Menteri Marwan menyempatkan diri untuk mengunjungi empat stand pameran dari sekian banyak stand, termasuk stand Pipikoro.
Dalam kunjungannya ke Stand Pipikoro, Menteri Desa mengapresiasi produk-produk yang di pamerkan termasuk penampilan Pipikoro dalam Pameran ini, terutama mengingat wilayah ini merupakan wilayah terisolir.
Subscribe to:
Posts (Atom)





