Showing posts with label Photos. Show all posts
Showing posts with label Photos. Show all posts

Wednesday, March 27, 2019

Onen Ma meup, Meup Ma Onen

Photo by Mering

Onen Ma meup, Meup Ma Onen adalah bahasa Boti yang bermakna Berdoa dan Bekerja, Bekerja dan Berdoa. Falsafah inilah yang menggerakan masyarakat Adat Boti untuk selalu bekerja keras dan selaras dengan alam. Mengolah kapas menjadi benang, menenun benang menjadi kain bagi perempuan Boti bukan sekadar menyediakan sandang bagi anggota keluarga dan komunitas, tetapi juga sebuah ritus untuk memuliakan kehidupan.

Tuesday, March 26, 2019

Mereka Diskusi Tentang Indonesia

Photo by Alexander Mering

Di Beranda rumah (sonaf) Raja Boti, 24 Maret 2019 lalu, Fasilitator Yayasan Tanpa Batas (YTB), Simeon Liuonome (kiri) dan kader Program Peduli, Sole Benu (kanan) yang juga warga Boti berdiskusi tentang Indonesia dan mengapa warga Masyarakat Adat Boti, menolak bantuan pemerintah.

Cerita terkait:




Sunday, March 24, 2019

Perempuan Boti dan Kayu Api

Photo by Mering

1.     Seorang perempuan Desa Boti sedang memasak menggunakan kayu bakar di dapur rumahnya yang berlantai tanah pada 24 Maret 2019.  Oleh BPS, warga yang masih memasak menggunakan kayu bakar dikategorikan miskin sebagaimana tertulis pada point 7 dari 14 kriteria kemiskinan  versi BPS. Padahal warga Boti adalah suku yang makmur, memiliki banyak ternak, pangan yang melimpah dan tak pernah sudi menerima bantuan pemerintah.

Cerita terkait:

Monday, October 1, 2018

Kunjungan Tim Kemitraan ke Suku Anak Dalam Jambi



Tim Kemitraan mengunjungi Suku Anak Dalam di Kabupaten Merangin-Jambi. Dalam kesempatan ini, tim Kemitraan mengunjungi 5 rombong yaitu, rombong temenggung Ganta di desa Sialang, rombong temenggung Yudi dan Temenggung Abas di desa Pelakar Jaya dan rombong temenggung Ngilo di desa Paomenang serta rombong temenggung Sikap di desa Pematang Kancil.
Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk melihat langsung program-program peduli yang telah dilaksanakan oleh CSO SSS Pundi, program-program yang telah terlaksana diharapakan mampu membawa perubahan terhadap kondisi SAD yang berada di jalur lintas yang selama ini sulit mengakses layanan dasar seperti layanan pendidikan, kesehatan, informasi dan ekonomi serta turut serta dalam proses pembuatan kebijakan di tingkat pemerintah dengan dasar kesetaraan dan tanpa diskriminasi. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari Program Peduli yang ingin mewujudkan tatanan masyarakat inklusif.

Tuesday, April 3, 2018

Congratulations SCF untuk Desain Poster Terbaik!


Poster design by SCF

Bulan ini, SCF terpilih sebagai desain poster terbaik. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang cerita dibalik foto ini, bisa di klik disini.

Selamat SCF!

Monday, April 2, 2018

Poster Marsan, Champion dari Desa Kahayya

Poster Marsan, Ketua Kelompok Tani HKM Tabuakkang Design by SCF
Berita terkait tentang Marsan bisa di lihat di link berikut ini

Wednesday, November 15, 2017

Journalis Trip Mentawai Program Peduli

Kemitraanbagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) akan menyelenggarakan journalist trip ke kepulauan Mentawai bersama media lokal, nasional dan Internasional. 

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 28 November - 2 Desember 2017 di 3 Desa di Siberut Utara dan Siberut Selatan, Kabupaten Menawai.

Tujuan Kegiatanini mengajak para jurnalis ‘mengalami’ langsung kehidupan dan pergulatan masyarakat Adat Mentawai yang terstigma dan terekslusi. Wartawan dapat ikut warga mentawai berburu, mencari sagu atau rotan di hutan sambil meliput kisah-kisah keseharian berikut perubahan yang terjadi selama intervensi Program Peduli yang dilakukan oleh Kemitraan melalui YCMM sebagai mitra pelaksana.  Informasi dan berita yang dipublikasikan wartawan diharapkan dapat membuka mata publik, pemerintah dan para pihak untuk lebih peduli dan berpihak kepada masyarakat adat di Mentawai.



Informasi yang dibutuhkan Journalist Trip

Jaringan Internet
Di Mentawai hanya ada jaringan Telkomsel untuk akses telepon dan internet. Namun hanya bisa diakses di sekitar pelabuhan dan ibu kecamatan.  Di Siberut Selatan, akses telepon dan internet dengan kekuatan sinyal yang lumayan bagus hanya ada di sekitar Pelabuhan dan di Muara Siberut. Dari Muara Siberut menuju Sila’oinan, termasuk di pusat desa Muntei, tidak ada lagi jaringan telepon dan internet. Namun di Salappak, ada alat pemancar sinyal internet di PUSTU Salappak (Program bantuan Keminfo tahun 2015) yang dapat digunakan untuk mengakses internet, namun dalam jangkauan yang terbatas. Meski adakalanya tidak dapat digunakan karena gangguan teknis terkait perawatan dan kondisi cuaca.
Sedangkan di Siberut Utara, jaringan telepon dan internet juga hanya ada di sekitar Pelabuhan Pokai sampai di ibu kecamatan di Muara Sikabaluan. Sementara di Gorottai tidak ada jaringan telekomunikasi sama sekali. Meski demikian, karena faktor cuaca yang kurang baik, jaringan telekomunikasi di Siberut Selatan maupun di Siberut Utara seringkali mengalami gangguan sehingga tidak bisa diakses.

Listrik & Fasilitas Sanitasi
Untuk kebutuhan listrik, juga hanya ada di ibu kecamatan, selebihnya harus menggunakan mesin genset. Di setiap kampung yang akan dikunjungi, ada beberapa warga yang memiliki mesin genset, namun perlu membawa bahan bakar dari pusat desa atau kecamatan. Untuk kebutuhan air bersih, di Sila’oinan baru di dusun Salappak yang memiliki saluran air bersih (melalui Program PAMSIMAS) yang sudah dialirkan ke sekitar rumah-rumah warga. Namun kebanyakan warga belum memiliki fasilitas kamar mandi dan toilet di rumah masing-masing. Sungai masih tetap menjadi primadona untuk keperluan MCK di wilayah Sila’oinan. Dan air hujan masih menjadi andalan untuk kebutuhan air minum di seluruh wilayah Sila’oinan termasuk di Gorottai.  

Alat Transportasi, Waktu Tempuh ke Desa Tujuan


Dari Padang ke Mentawai selain kapal Mentawai Fast, juga ada Kapal ferry ASDP. Tetapi jadwal dan rutenya tidak pasti, berhubung salah satu dari 2 kapal yang berlayar ke Mentawai saat ini sedang docking. Selain itu waktu tempuh bisa mencapai 12 jam lebih. Terlebih dalam kondisi cuaca yang kurang baik dan gelombang laut yang masih tinggi, yang diprediksi hingga akhir tahun ini.


Desa Sila’oinan
Dari Pelabuhan Maileppet atau dari Muara Siberut atau Muntei (jika perlu bermalam) menuju Sila’oinan bisa menggunakan perahu pompong dengan kapasitas rata-rata 3 orang penumpang dalam satu perahu. Jika debit air sungai cukup baik (tinggi), waktu tempuh dari Muntei mencapai ± 3 jam menuju Bekkeiluk (dusun paling hilir di Sila’oinan). Butuh waktu ± 45 menit dari Bekkeiluk menuju Salappak, selanjutnya butuh ± 30 menit dari Salappak menuju Magosi dan butuh ± 30 menit lagi dari Magosi menuju Tinambu (dusun terakhir di hulu Sila’oinan). Namun jika air sungai dangkal, waktu tempuh bisa jauh lebih lama.

Selain perahu pompong, pada musim penghujan atau dengan kondisi air sungai yang cukup tinggi, bisa juga menggunakan perahu speedboat ke Sial’oinan. Dengan kapasitas rata-rata 6-7 orang penumpang, dengan waktu tempuh ± 2,5 jam menuju Salappak. Namun jika air sungai dangkal, maka sulit menggunakan alat transportasi ini menuju Sila’oinan.

Gorottai
Dari Pelabuhan Pokai atau dari Muara Sikabaluan, harus menggunakan ojek sepeda motor terlebih dahulu menuju pinggir sungai di Terekan Hulu. Waktu tempuh dari Muara Sikabaluan menuju Terekan ± 1,5 jam. Dari Terekan Hulu menuju Gorottai harus ditempuh dengan menggunakan perahu pompong dengan kapasitas 5-6 orang penumpang. Waktu tempuh pada musim penghujan atau ketika debit air sungai cukup tinggi, hanya sekitar 30 menit. Namun jika air sungai sangat dangkal, penumpang harus rela naik turun perahu sambil membantu supir mendorong perahu, dibutuhkan waktu 1,5 s/d 2 jam untuk bisa sampai ke pinggir pemukiman warga. 

Turun dari perahu, masih harus berjalan kaki menuju pemukiman warga. Jarak ke pemukiman lama bisa ditempuh hanya 15 menit dari pinggir sungai. Namun ke perkampungan baru dibutuhkan waktu ± 45 menit atau 1 jam berjalan kaki dari pinggir sungai. Tergantung kondisi jalan yang sangat dipengaruhi curah hujan. Sebab, jika hujan sering turun, jalanan akan sangat licin dan berlumpur, sehingga menyulitkan perjalanan. Sementara itu, iklim dan cuaca (termasuk hujan) tidak bisa diprediksi dengan pasti.  

   
 



Sunday, August 27, 2017

Anak-anak Solo Ingin Tahu tentang Masyarakat Adat


GENERASI HEBAT--Generasi yang hebat adalah generasi yang mengenal asal usul dirinya sendiri. Karena itu Stand Kemitraan dalam rangka Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental di Surakarta Solo, juga memperkenalkan buku Peduli Adat dalam Bingkai Inklusi, bagi anak-anak usia sekolah, agar mereka dapat belajar tentang asal usul dan unsur yang membentuk bangsa Indonesia.  Anak-anak Solo ini  juga ingin mengetahui dan memahami masyarakat adat yang tereksklusi di belahan lain nusantara,  sehingga mereka bisa ikut peduli. Photo by @mering 

Thursday, August 17, 2017

Makna Merdeka Bagi Masyarakat Adat

Masyarakat Adat yang termarginalkan tidak memerlukan kemerdekaan yang muluk-muluk seperti yang ditulis dalam teks proklamasi dan janji-janji negara. Mereka hanya memerlukan pengakuan dan negara tidak lagi malah mefasilitasi para begal-begal 'Kurawa' dan gerombolan spekulan datang merampas, merampok  bahkan memperkosa hutan, tanah, sungai gunung dan bentang alam yang merupakan tempat mereka menyimpan memori nenek moyang maupun berbagai pengetahuan kehidupan yang maha real maupun rahasia semesta.

Masyarakat Adat hanya perlu kebebasan ruang untuk menentukan nasib dan kehidupannya sendiri. Sebab hanya masyaakat yang bebas tanpa tekanan, itimidasi dan terorlah yang bisa kreatif, produktif dan berbahagia dalam bingkai kesatuan negara republik Indonesia. #Merdeka

Design & text @alexandermering

Wednesday, August 16, 2017

Arti Merdeka untuk SAD

Bejar di dalam gelap.

Merdeka memiliki arti yang beragam bagi mereka yang secara ekonomi, sosial, politik, budaya dan geografis terisolasi. Episode ini menampilkan masyarakat adat SUKU ANAK DALAM di jambi.
Inilah arti 'Merdeka' itu :

#Merdeka itu, ketika dalam keterbatasan, kami masih bisa belajar. Ketika kami mendapatkan hak yang sama atas pendidikan, Meski tanpa penerangan listrik, tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap belajar (anak-anak komunitas Suku Anak Dalam, Dusun Pasir Putih Kec. Pelepat Kab. Bungo Jambi) 

#Merdeka itu, ketika kami bisa berseragam sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Meski hidup beratap terpal di “sudung” dan orang-orang tua kami buta huruf, justru menjadi motivasi kami untuk dapat terus bersekolah. Kami ingin pintar, agar keluar dari kemarjinalan kami. Ali dan Sumar, anak SAD dari Rombong Syargawi SPE, Kab. Sarolangun Jambi). Baca selengkapnya di sini

Tuesday, August 15, 2017

Arti Kemerdekaan bagi Dayak Kenyah Lepoq Jalan


Kali ini kami mengangkat cerita mengenai masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan di desa Lung Anai di Kutai Kartanegara. Desa Lung Anai sendiri sudah menjadi desa Budaya sejak tahun 2005 sebagai hasil pemekaran Desa Sungai Payang.

Namun demikian, masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan masih mengalami permasalahan ketidakpastian ruang hidup dan sumber penghidupan akibat konflik lahan dengan masyarakat desa sekitarnya dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka juga menerima stigma sebagai masyarakat pendatang dan pencuri lahan oleh masyarakat desa sekitarnya.

Masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq sendiri sebenarnya masih memegang teguh kebudayaan dan adat istiadat mereka. salah satu budaya yang masih dilaksanakan hingga saat ini adalah Uman Undrat atau pesta panen Lung Anai sebagai rasa syukur atas panen padi ladang mereka.
Kemerdekaan bagi mereka memiliki banyak arti. #Merdeka itu berarti kebebasan mengolah tanah sesuai dengan tradisi mereka. Merdeka itu berarti bebas dari rongrongan korporasi yang berusaha mengambil tanah penghidupan mereka. Merdeka berarti adanya perhatian penuh dari pemerintah untuk ikut mengembangkan adat istiadat suku dayak di Lung Anai sebagai kekayaan nusantara. Sumber asli klik di Peduli Adat.