Showing posts with label Suku Anak Dalam (SAD). Show all posts
Showing posts with label Suku Anak Dalam (SAD). Show all posts

Wednesday, October 10, 2018

Jangan Rampas Hutan Kami!

     Temenggung Ngilo sedang menyadap getah karet. Photo Andre Nababan

Hutan bagi masyarakat Suku Anak Dalam (SAD)  bukanlah sekedar tempat untuk bermukim dan menjadi sumber mata pencaharian. Hutan adalah warisan leluhur yang harus dijaga hingga diwariskan kepada generasi penerus SAD. Kebutuhan akan hutan sangatlah besar bagi SAD. Jika dulu sebagaian besar mereka hidup nomaden dengan cara melangun, kini beberapa diantara rombong (kelompok) mulai memanfaatkan lahan dengan menanam pohon karet yang kemudian dapat menjadi sumber mata pencaharian mereka untuk hidup, sebagaimana yang dilakukan Temenggung Ngilo. di Desa Pauh Menang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.
Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin Jambi.

Cek: https://komunita.id/?p=49296
Desa Pauh Menang Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin Jambi.

Cek: https://komunita.id/?p=49296
Beberapa dekade silam, saat hutan masih terjaga kelestariannya, cukup banyak kegiatan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan yang dilakukan oleh SAD di Merangin yaitu dengan mencari madu di pohon sialang yang tinggi, buah jernang, mencari buah pohon Sebelik Sumpah untuk dijadikan cindera mata yang dipercaya memiliki kekuatan magis  untuk menolak bala.
Namun saat ini hutan yang didiami oleh SAD semakin susut karena semakin luasnya perkebunan kelapa sawit yang menggantikan hutan rimba dan juga menggusur keberadaan dari SAD. Tradisi hidup berpindah-pindah atau melangun saat ada anggota keluarga yang sakit atau meningal juga semakin sulit dilakukan.  Kelompok SAD yang tinggal di area perkebunan sawit acapkali mendapat perlakuan kekerasan dan pengusiran dari pemilik kebun karena dianggap pengganggu. Hal iniliah yang membuat SAD seakan menjadi 'pengungsi' di tanah miliknya sendiri. (Andre Nababan)



























Monday, October 1, 2018

Kunjungan Tim Kemitraan ke Suku Anak Dalam Jambi



Tim Kemitraan mengunjungi Suku Anak Dalam di Kabupaten Merangin-Jambi. Dalam kesempatan ini, tim Kemitraan mengunjungi 5 rombong yaitu, rombong temenggung Ganta di desa Sialang, rombong temenggung Yudi dan Temenggung Abas di desa Pelakar Jaya dan rombong temenggung Ngilo di desa Paomenang serta rombong temenggung Sikap di desa Pematang Kancil.
Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk melihat langsung program-program peduli yang telah dilaksanakan oleh CSO SSS Pundi, program-program yang telah terlaksana diharapakan mampu membawa perubahan terhadap kondisi SAD yang berada di jalur lintas yang selama ini sulit mengakses layanan dasar seperti layanan pendidikan, kesehatan, informasi dan ekonomi serta turut serta dalam proses pembuatan kebijakan di tingkat pemerintah dengan dasar kesetaraan dan tanpa diskriminasi. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari Program Peduli yang ingin mewujudkan tatanan masyarakat inklusif.

Monday, October 3, 2016

Orang Kalah yang Tidak Mau Mengalah: Orang Rimba

Cover Novel PDT Karya Paul Tao Widodo
Adi Prasetijo PhD[1]

Bagi orang pemerintah, Orang Rimba atau Suku Anak Dalam adalah hanya sebuah angka deret penerima project semata. Angka penerima manfaat dari jumlah rumah yang dibangun, atau jumlah penerima bantuan beras dan lauk pauk. Angka deret yang mungkin dianggap tanpa jiwa. Bagi masyarakat luas di Sumatra, Orang Rimba mungkin dianggap angka deret yang tanpa makna.

Ya. Tanpa makna. Bagi orang kebanyakan Orang Rimba dianggap sebagai orang buangan. Cerita asal-usul mereka sebagai orang buangan, tentara yang berasal dari Pagaruyung kemudian tidak berhasil menjalankan misinya dan malu untuk kembali maka berdiamlah dihutan dataran rendah Sumatra tengah – antara Sumatra Barat dan Jambi. Atau cerita bahwa sebenarnya adalah sisi terpisah dari buah gelumpang bersama Orang Melayu dan melakukan perjanjian untuk selalu menjaga sikap dan persumpahan. Dan mitos ini selalu menjadi pembenar bagi masyarakat Melayu untuk selalu mengalahkan mereka. Cerita yang selalu menjelaskan posisi mereka bahwa mereka selalu dibawah dan kalah.

Novel ini tentang Orang Rimba yang selalu dalam posisi termarjinalkan. Sangat jarang, bahkan menurut saya ini adalah novel pertama dari sudut pandang Orang Rimba sendiri. Meskipun penulis belum pernah melakukan perjalanan dan penelitian terhadap Orang Rimba, namun sudut pandang orang pertama dari Orang Rimba perlu diapresiasi. Sudut pandang bahwa sebenarnya mereka bukanlah orang yang benar-benar kalah.

Selama ini Orang Rimba selalu diposisikan sebagai orang-orang yang kalah. Sangat jarang diceritakan bahwa Orang Rimba juga mampu melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ketokohan “Rima”, seorang janda dengan 8 orang anak, dan menjadi kepala rombong memang bukanlah hal yang mudah ditemui dalam kehidupan Orang Rimba. Sangat jarang atau bahkan belum ada cerita bahwa perempuan menjadi kepada rombong Orang Rimba. Meskipun begitu novel ini ingin menunjukan bahwa bukanlah omong kosong bahwa suatu saat perempuan bisa menjadi pemimpin bagi Orang Rimba.

Perempuan bagi Orang Rimba mempunyai makna yang kuat. Ada tiga persumpahan bagi Orang Rimba yang menunjukan itu, “Rajo nan diperturut”, “Rajo nan disembah”, dan “Rajo nan dipermalu’on”. Raja nan diperturut adalah anak, raja nan disembah adalah pemerintah atau penguasa, dan raja yang dipermalukan adalah perempuan. Artinya bahwa perempuan adalah seseorang yang memang harus dijaga dari perbuatan yang memalukan. Mereka dijaga agar tidak sembarangan bertemu dengan orang luar. Bagi Orang Rimba, orang luar adalah membawa keburukan. Hal itu dinampakan dalam beberapa taboo atau pantongon bagi Orang Rimba dan perempuan untuk membatasi bertemu dengan orang luar. Namun demikian halnya, banyak orang luar yang kemudian masuk ke dalam hutan untuk merambah. Pembagian dunia kosmologi yang awalnya menjadi kesepakatan bersama ini kemudian mempengaruhi bagaimana Orang Rimba melihat dunianya kembali. Dunia yang dulunya bagi mereka adalah rumah besar, sekarang bukan hanya milik mereka tetapi sudah menjadi milik semua orang. Dan bagi saya, perempuan mempunyai peran yang penting dibalik layar bagi keluarga dan kelompoknya. Saya teringat, saya dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok Orang Rimba yang lain karena induk[2]Tarib menghantar saya dan membawa saya ke dalam kelompok tersebut.

Bagi Rima, sang tokoh, mereka bukanlah cerita kekalahan. Bagi Rima, menjalani hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menentukan bagaimana mereka terus hidup sebagai Orang Rimba. Cerita Rima, bagi saya adalah cerita Orang Rimba yang tidak mau mengalah kepada kekalahan itu sendiri.  Dari catatan KKI Warsi sendiri, sampai tahun 2015, terdapat kurang lebih 21 kasus konflik antara Orang Rimba dan pihak luar, dan menyebabkan 15 Orang Rimba meninggal dunia (Prasetijo,2014). Suatu cerita yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Orang Rimba juga berjuang. Mereka juga tidak mau mengalah dengan mudah. Cerita Rima dan anak-anaknya adalah cerita bahwa mereka tidak mau mengalah kepada keadaan yang tidak mendukung lagi keberadaan mereka.

Dan Rima sendiri berjalan dan berjuang bersama anak-anaknya sampai akhir. Sampai hilangnya daun terakhir di hutan, dan disitulah akhir yang namanya Orang Rimba.













[1]Peneliti Orang Rimba, dosen Antropologi Sosial Undip
[2]sebutan Ibu bagi Orang Rimba

Wednesday, September 7, 2016

Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang SAD

Order Novel di sini
By Alexander Mering

Desember 2014 lalu saya, bertemu Mak Marni, seorang ketua rombong (kelompok) Suku Anak Dalam (SAD) atau yang kerap disebut orang rimba di hutan kecil, di Kabupaten Damasraya, Provinsi Sumatera Barat.

Ingatan saya tentang Mak Marni yang terjepit dan berusaha bertahan hidup bersama beberapa orang anak dan cucunya di antara perkebunan kelapa sawit, begitu menggangu saya.   Sampai akhirnya lahirlah sebuah puisi berjudul Kunang-kunang Hutan.

Saya publish puisi itu di blog pribadi saya, http://wisnupamungkas.blogspot.com, dan juga saya broadcast ke facebook, sambil menambahkan lagi beberapa catatan tentang betapa tidak bahagianya saya di malam natal setelah mengetahui Mak Marni sekeluarga pula kelaparan karena tak mendapat pasokan bahan makanan.

Tanpa di duga, Paul Tao Widodo, penulis novel sejarah Republik Lanfang dari Kalimantan Barat mengirim SMS, mengungkapkan keprihatiannannya. Tak hanya Paul, simpati dari berbagai teman pun berdatangan. Baik yang mengirim ke wall facebok saya, WA maupun telepon langsung. Bahkan beberapa teman sastrawan dan di Malaysia mengomentari puisi saya dan ingin ikut menyumbang, untuk meringankan beban Mak Marni.

“Bang, saya akan membuat novel tentang  orang rimba itu. Hanya itu yang bisa saya lakukan, dan sebagian uang penjualan novel itu bisa kita sumbangkan pada mereka,” kata  Paul, sehari menjelang Natal.   Kami membicarakan niatnya itu sambil menyerumput kopi di beranda rumahku di Pontianak.

Saya terpesona. Karena dia bukan saja tak pernah bertemu Mak Marni, atau orang rimba yang lain, bahkan kakinya belum pernah menginjak tanah Sumatera.

Pada awalnya saya sempat ragu untuk membantunya. Terutama karena kesibukan rutin saya, selain itu pasti tidak mudah juga bagi Paul menulis sesuatu yang sangat baru, apalagi tak sungguh-sungguh mengenal atmosfir dimana kisah tersebut diceritakan.  Belum lagi soal bahasa, membangun dialog dalam basa lokal, dan para pelaku dan tokoh ceritanya yang pastilah sebagian orang Sumatera Barat.  Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?

Tapi ini sebuah niat, tulus. Dia ingin membantu, dan bukan untuk membuat tesis sejarah. Singkat kata, saya menyetujui ideanya, dan berjanji akan segera membangun contact dengan para fasilitator Program Peduli  SSS Pundi di Sumatera yang bekerja mendampingi Mak Marni dan SAD yang lain untuk mendapatkan data. Mulai dari sebaran, konflik yang dialami, hingga tetek benegek sederahana, seperti peta kabupaten Damasraya yang bisa dipakai membangun narasi tentang pergulatan Mak Marni  dan para SAD lainnya di Sumatera.

Saya membantunya menyuplai data sebanyak-banyaknya, membantu mengoreksi tulisannya, mengedit Bab demi Bab, mengutak-atik plot cerita, memintanya mengecek dan recheck lagi soal pemakaian istilah, kata-kata dan pribahasa yang digunakan para tokoh cerita.  

Buku ini menjadi menarik, karena Paul tidak menggunakan satu sudut pandang saja, yaitu orang SAD, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara koorperasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang nasibnya tak jauh berbeda—dimana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Karena itulah Paul memilih judul untuk Novel ini: Perempuan di Ujung Tembawang. Yaitu sebuah system agroforestri dalam masyarakat adat yang mulai banyak diperbincangkan para peneliti luar dan dalam negeri.

Dummy buku telah selesai di cetak oleh PT. TOP Indonesia, dan rencananya kan diluncurkan pada malam amal untuk SAD di Kabupaten Damasraya, kerjasama SSS Pundi Sumatera dan Kabupaten Damasraya.

Bagi anda yang ingin memesan Novel Perempuan di Ujung Tembawang (PDT) silahkan order di link ini.

***





Tuesday, January 12, 2016

Anak-anak SAD Tanpa Pilihan

Dok SSS Pundi
Pola pembangunan dan perkebunan kelapa sawit bersekala besar tak memberikan banyak pilihan kepada komunitas Suku Anak Dalam (SAD) Jambi ini, sebab hutan yang menjadi rumah dan sumber penghidupan mereka sudah ludes. Program peduli berusaha membuat semua ikut peduli pada nasib kehidupan mereka yang terelusi dan termarginalkan.


Sunday, January 3, 2016

“SUDUNG”: Strategi Mendukung Kehidupan dan Sumber Daya Alam Suku Anak Dalam (SAD)



Mitra : Pundi Sumatera.
Lokasi Program :  Kab. Merangin, Kab. Sarolangun, Kab. Bungo (Jambi) dan Kab. Dharmasraya (Sumatera Barat)

Pundi Sumatera merupakan mitra Program Peduli yang mendampingi komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang hidup di jalur Lintas Tengah Sumatera. SAD dalam kondisi memprihatinkan karena sumber penghidupan mereka hilang akibat deforestasi hutan yang disebabkan oleh masifnya konversi hutan menjadi lahan perkebunan skala besar, lokasi pembangunan transmigrasi, tambang, dan pengusahaan hutan tanaman industri, sementara mereka masih belum sepenuhnya bisa meninggalkan kegiatan  berburu dan meramu. SAD juga terpecah dalam rombong (kelompok) kecil yang hidup terpisah. Mereka mendapat stigma sebagai warga terbelakang, kotor dan kumuh, serta diskriminasi dan minimnya layanan dasar yang mereka terima.

Program Peduli hadir dan mendorong terjadinya perubahan sosial dalam komunitas SAD. Perubahan yang diharapkan terjadi terkait adanya pengakuan atas hak-hak dasarnya sebagai warga negara, dapat berinteraksi dengan komunitas lain secara setara, mendapatkan layanan sosial (pendidikan dan kesehatan) berdasarkan situasi sosial SAD dengan tetap mempertahankan eksistensinya serta tersedianya ruang hidup yang disepakati antara SAD dan pemerintah